Oleh: Tegar Fie Sabilillah
Deretan legitimasi rinduku padamu, adakah sejujur mekar mawar?, lugu tanpa perlu disangsikan, atau rasa rinduku ini, hanya sesaat saja untuk berehat dari catat coret kelam.
Dalam mendefinisikan rindu aku tenggelam ditelan linglung, tercari-cari benarkah rindu ini sejujur awan berarak tanpa resah berkabut kesah.
Aku kegamangan mengartikan rindu, tapi sebentar, aku melihat masyhur menjamur ,kedai-kedai banjir orderan mendadak, tentang keterpaksaan menyurukkan aurat, di kota borak itu ditutup barang sejenak.
Masjid-masjid sekejap sesak, lembaga infak penuh membeludak, benarkah ini rindu?, tapi mengapa hanya sejenak, mendadak? Setelah itu aku mencium gelagat, fastabiqul aurat, berlomba-lomba mengumbar bejat!,

Oleh: Alfikri Fauzi
Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak.
Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare,
yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang
dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara denganeducare,
yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau
potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti pengolahan, mengolah, mengubah
kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah
kepribadian sang anak.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik
(mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai
akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan,
cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan
budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan
hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan
masyarakatnya.
Dari pengertian-pengertian dan
analisis yang ada maka bisa disimpulkan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun anak sejak
lahir untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi alam
beserta lingkungannya.
Dalam pendidikan terdapat dua hal penting yaitu aspek
kognitif (berpikir) dan aspek afektif (merasa). Sebagai ilustrasi, saat kita
mempelajari sesuatu maka di dalamnya tidak saja proses berpikir yang ambil
bagian tapi juga ada unsur-unsur yang berkaitan dengan perasaan seperti
semangat, suka dan lain-lain. Substansi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah membebaskan manusia dan menurut
Drikarya adalah memanusiakan manusia. Ini menunjukan bahwa para pakar pun
menilai bahwa pendidikan tidak hanya sekedar memperhatikan aspek kognitif saja
tapi cakupannya harus lebih luas.
Depertmen
syi’ar dan pelayanan kampus forum kajian islam
intensif (Fkii) Asy-syams Uin Suska Riau. Mengadakan kunjungan ke setiap
rohis-rohis Fakultas dengan tema “Merajut Ukuwah Dalam Satu Mimpi, Senen (7/5)
lalu.
Imam Faisal sebagai ketua umum Fkii Asy-Syams mengatakan “ Tujuan diadakan kunjungan ini
selain untuk mempererat ukuwah, juga sebagai sarana ta’aruf antara pengurus fkii periode 2012/2013 dengan
rohis fakultas, serta untuk mensinkronisasi program kerja yang mendasar seperti
tatsqib gabungan, mabit gabungan, agenda keputrian gabungan, dan lain-lain.
STRUKTUR PENGURUS FKII ASY-SYAMS PERIODE 2012-2013
NO
|
NAMA
|
FAK/JUR/ANG
|
AMANAH
|
|
1
|
Imam
Faisal
|
FTK/PBA/08
|
Ketua Umum
|
|
2
|
M. Yuliandri
|
FST/TI/09
|
Sekretaris Umum
|
|
3
|
Isma Khairani
|
FST/SI/08
|
Bendahara Umum
|
DEPARTEMEN
PEMBINAAN ANGGOTA (DPA)
NO
|
NAMA
|
FAK/JUR/ANG
|
AMANAH
|
|
1
|
Zakaria
|
FDIK/I.KOM/09
|
Koordinator
|
|
2
|
Razmi
|
FASIH/IH/08
|
Anggota
|
|
3
|
M. Ibnu Sidiqi Arif
Billah
|
FST/TE/08
|
Anggota
|
|
4
|
Cicilia Putri Ardila
|
FASIH/EI/08
|
Korwat
|
|
5
|
Ayu Citra Pratiwi
|
F.PSI/PSI/09
|
Anggota
|
|
6
|
Siti Samawiyah
|
FU/TH/09
|
Anggota
|
DEPARTEMEN
PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MAHASISWA (DPSDM)
NO
|
NAMA
|
FAK/JUR/ANG
|
AMANAH
|
|
1
|
Sutarno
Nurdianto
|
FEKONSOS/AK/08
|
Koordinator
|
|
2
|
Rudi
Rendra
|
FTK/PBA/09
|
Anggota
|
|
3
|
Basirin
|
F.PSI/PSI/09
|
Anggota
|
|
4
|
Suci Fitriana
|
FASIH/EI/08
|
Korwat
|
|
5
|
Restika Juhasmi
|
FTK/P.EKO/10
|
Anggota
|
|
6
|
Muliana
|
FEKONSOS/ADM/10
|
Anggota
|
DEPARTEMEN
SYI’AR & PELAYANAN KAMPUS
NO
|
NAMA
|
FAK/JUR/ANG
|
AMANAH
|
|
1
|
Saidan
|
FASIH/EI/09
|
Koordinator
|
|
2
|
Nicky
|
PSI/PSI/08
|
Anggota
|
|
3
|
Saddam Husain Elha
|
FASIH/EI/09
|
Anggota
|
|
4
|
Agtma Armi
|
FASIH/EI/08
|
Korwat
|
|
5
|
Jasmawati
|
FASIH/EI/08
|
Anggota
|
|
6
|
Junida
|
FTK/PKA/09
|
Anggota
|
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Audisi Menulis Artikel Dalam Menyambut Hari Pendidikan Nasional 2012
Dengan Tema “ Ketika Pendidikan Menjadi Kebutuhan”
Syarat dan ketentuan:
Tulisan TNR, 12, Spasi 1,5
Minimal 2 halaman
Tulisan dikirim ke fkiiberkarya@gmail.com
Lengkap dengan biodata diri
Deadline 22 Mai
Terbuka untuk Mahasiswa UIN SUSKA RIAU
Tiga tulisan terbaik akan mendapatkan sartifikat + Reward
Mari menulis bersama Fkii Berkarya
“Berbagi dalam kebaikan”
By: Departemen Syiar dan Pelayanan Kampus Fkii Asy-Syams
"Wahai orang-orang yang beriman, Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS AsShof:2-4)
Jumat (17/02) pukul 15.00 wib tampak sekelompok pemuda telah berkumpul di Masjid Darul Amal Buluh Cina. Mereka adalah kader FKII Asy-Syams yang akan mengikuti acara TFT PMLDK (Pelatihan Manajemen Lembaga Dakwah Kampus) Wilayah SUMBAGUT (Sumatra Bagian Utara) di UNP (Universitas Negeri Padang) di Kota Padang, Sumatra Barat. Suasana sangat terik, hanya sebagian dari mereka yang memang mempunyai aktivitas penting berniat keluar rumah untuk menyelesaikan pekerjaan ataupun rutinitasnya. Hal itu pulalah yang dilakukan sekelompok pemuda yang jiwanya masih bergelora untuk melakukan perubahan, perubahan yang lebih baik untuk dunia dan dakwah.
Semua peserta telah berkumpul. 24 orang ditambah 4 orang kader dari Bengkalis dengan komposisi 2 peserta dari STAI Bengkalis dan 2 peserta dari Politeknik Bengkalis. Tampak jam menunjukkan waktu sholat Ashar akan tiba, sebagai kader dakwah ibadah adalah hal yang utama sehingga keberangkatan ditunda hingga sholat Ashar selesai ditunaikan. Ba’da ashar sesuai dengan jadwal seluruh peserta yang berjumlah 28 orang langsung berangkat menuju kota Padang. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan namun terasa nikmat sepanjang perjalanan diiringi oleh senandung nasyid yang mampu membakar semangat muharik dakwah.
Perjalanan terus berlangsung menuju kota Padang, pukul 01.30 dini hari. Rombongan disambut ramah dengan panitia yang tidak lain adalah kader di UNP. Malam itu rombongan memilih menginap di sebuah masjid, hal yang biasa bagi aktifis masjid. Karena masjid adalah tempat yang nyaman bagi kader dakwah. Setelah bercengkrama sedikit dan melakukan Qiyamul lail masing-masing peserta beranjak tidur untuk mempersiapkan diri buat esok hari karena hari pertama acara PMLDK Training For Trainer dimulai.
Hari pertama pembukaan berlangsung di Aula Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNP. Tampak kader dari berbagai kampus dan sekolah tinggi wilayah Sumbagut telah berkumpul di acara pembukaan. Acara pembukaan dimulai pukul 09.00, rentetan acara pembukaan formal yang seperti biasa pun berlangsung, dimulai dari pembukaan dari pembawa acara dan ditutup dengan doa beserta rangkaian kata sambutan yang salah satunya dari Koordinator BP NAS FSLDK SUMBAGUT kakanda Teuku Deby. Nuansa ukhuwah menggelayuti masing-masing peserta yang hadir yang beramah tamah, berkenalan dan saling berbagi cerita bersama. Acara pembukaan berjalan lancar tidak banyak hal yang memberatkan. Setelah pembukaan selesai dimulailah rentetan acara Training For Trainer di hari pertama. Materi pertama berjudul Manajemen Lembaga Dakwah Kampus disajikan oleh pemateri yang masih terbilang muda dan luar biasa yaitu Ardian Fajar, salah satu kader dari GAMAIS ITB yang saat ini diamanahkan sebagai ketua PMLDK TC FSLDK. Sebelum acara dimulai masing-masing utusan diabsen dengan meneriakkan takbir bagi PUSKOMDA nya disebutkan. Sungguh luar biasa ternyata kader dari Riau yang notabenenya adalah mayoritas kader FKII Asy-Syams merupakan utusan terbanyak dan terdahsyat.
Di hari pertama hanya ada dua materi. Namun isi materi cukup panjang menceritakan bagaimana pengkaderan dan pembungkusan syi`ar yang bagus serta berisi tentang Human Engginering. Materi Human Engginering ini disampaikan oleh Kang Cecep yang juga merupakan kader GAMAIS ITB dan mantan ketua PMLDK TC. Di hari pertama ini peserta disajikan dengan materi yang sangat mendukung terbentuknya suatu LDK yang baik. Acara hari pertama selesai sekitar pukul 17.00 kemudian peserta diantar panitia menuju penginapan berupa wisma yang masih berada didalam wilayah kampus UNP.
Malam hari nya adalah malam silaturahim (ta’aruf), bercengkrama dan berdiskusi dengan kader yang berasal dari luar daerah serta malam merileksasikan badan bagi peserta setelah mengikuti materi seharian. Namun tidak melupakan amalannya. Layanan yang diberikan cukup memuaskan peserta. Di sini peserta tidak perlu repot-repot mencari kebutuhan konsumsi untuk mengisi perutnya. Peserta cukup menunggu dengan tenang apabila jam makan karena panitia akan datang untuk menghantarkan makanan kepada peserta.
Hari pertama berlalu, karena bagaimana pun caranya kita menghalanginya waktu tak akan pernah bernegosiasi untuk berpindah dan terus berubah serta menggilas bagi mereka yang bergerak lamban karena tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Suasana dan cuaca pada hari kedua tidak jauh berbeda dengan hari pertama, cukup cerah dan terik serta tidak jauh berbeda dengan kondisi Pekanbaru di kala siang yang panas.
Di hari kedua, saatnya simulasi bagi beberapa peserta. Berhubung waktu yang terbatas sehingga tidak memungkinkan seluruh peserta yang sebanyak 185 orang tampil ke muka. Pada sesi ini, kader dari UIN Suska yang mendapatkan kesempatan untuk mengisi simulasi hanya 3 orang dari 15 orang yang mendapat kesempatan tampil. Termasuk kuota terbanyak dari masing-masing utusan. Kader yang mendapat kesempatan tampil itu adalah Gunawan Arafat, Saidan dan Zakaria. Performance kader dari Riau cukup maksimal dan tidak kalah saing dengan kader-kader dari daerah lain. Zakaria meraih suara terbanyak pertama dari juri votelock dan masuk ke babak selanjutnya (lima besar).
Setelah babak penisihan simulasi, ada breaking berupa doorprize dari panitia bagi dua peserta ikhwan dan akhwat. Doorprize bukanlah tujuan dari peserta, karena itu hanya sebuah kejutan dari panitia. Dengan suara yang cukup bersemangat MOT acara mengumumkan bahwasannya seluruh peserta diminta berdiri dan melihat pada bangku yang didudukinya, “Adakah tali yang terikat pada bangkunya ?!!”. Sureprise dan terkejut, bagi yang di bangkunya ada tali yang terikat. Dua peserta ikhwan dipanggil menuju panggung yaitu Akhina Asep Nurjaman dan Jurio Susilo. Tak disangka keduanya dari UIN. Semula dikira akan diberi hukuman karena sorak dari peserta mengibaratkan kami akan dihukum ternyata tidak. Panitia meminta kami menceritakan kisah perjalanan dari Pekanbaru ke tempat acara. Hm.. Terakhir, peserta yang beruntung ini pun diberi sebuah buku terbitan terbaru dari Gamais Press yang berjudul Membumikan Dakwah Kampus (lumayan dapat gratis J).
Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan 5 peserta terpilih dari babak penyisihan simulasi. Satu persatu tampil, dengan performance dan gaya masing-masing peserta untuk memikat audient mengikuti materi yang disampaikan. Tidak kalah dengan penampilan trainer yang sudah memiliki jam tayang tinggi, peserta TFT ini juga mampu membawa peserta mengikuti materi yang disampaikan.
Penghujung acarapun tiba, juri mulai memutuskan dan memberi kritik serta arahan kepada masing-masing peserta. Keputusan yang sesungguhnya tak ingin diputuskan oleh Dewan Juri karena setiap peserta memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Juri memutuskan peserta terbaik dengan berat, peserta yang brilliant dan paling “PAS” menjadi trainer terbaik adalah seorang utusan dari UNP bernama Jufri (ketua UKK UNP).
Setelah diumumkan peserta terbaik TFT PMLDK maka berakhirlah acara tersebut. Diakhiri dengan bersalaman penuh ukhuwah dan sesi kenangan yaitu foto bareng yang semula direncanakan foto peserta dari Riau saja namun peserta lain tidak ingin ketinggalan sehingga ikut gabung foto bersama peserta PMLDK. Ada rasa haru dan bahagia di akhir acara, karena meskipun hanya beberapa hari namun ukhuwah telah menyatukan dan pengalaman yang diberikan cukup banyak untuk bekal dibawa pulang ke daerah masing-masing. Pukul 17.00 wib seluruh peserta check out untuk pulang ke daerah masing-masing.
Peserta dari Riau pun langsung berangkat menuju Pekanbaru. Namun karena sudah sampai di Sumbar tidak mungkin peserta pulang dengan tangan kosong. Sambil menuju perjalanan pulang singgah dulu ke Air Terjun Lembah Anai dan Bukit Tinggi untuk membeli oleh-oleh. Peserta tiba di Pekanbaru pada pukul 04.00 wib dan tanpa basa-basi langsung menuju kekontrakan, kos dan rumah masing-masing. Banyak tanggapan dari peserta setelah mengikuti TFT PMLDK tersebut. “Tidak ada kata lain selain salah satu pengalaman yang luar biasa” kata Azim kader FKII fakultas Psikologi.
Allah menyenangi muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Walau keduanya masih tetap ada kebaikan. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dakwah yang dilakukan seorang dai akan membawa manfaat bagi dirinya sebelum manfaat itu dirasakan oleh orang lain. Tanpa ada budaya yang dibangun, maka pastilah dakwah di kampus akan sulit berkembang dan semakin lamanya cita-cita dakwah kampus tercapai.
Kita merasa memiliki keluarga yang besar senasib dan seperjuangan dalam dakwah ini. Saling memikirkan antara satu dengan yang lainnya. Saling mengevaluasi. Luar biasa ternyata di luar sana. Banyak sekali saudara-saudara kita yang sama-sama memperjuangkan agama Allah ini. Sebagai kebesarannya ana ucapkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”. Sampai jumpa di Surga sana... I Love FSLDK,,J
.: Humas FKII Asy-Syams :.
Oleh: Jumardi
(Tulisan ini diterbitkan di Riaupos kolom Essai tanggal 12 Februari 2012)
Menurut Shauqi Dhaif, adab (sastra) adalah karya yang dapat membentuk ke arah kesempurnaan kemanusiaan, yang di dalamnya terkandung ciri estetika dan kebenaran. Dalam Islam, sastra haruslah mendorong hasrat masyarakat untuk menjadi pembaca yang baik. Masyarakatlah yang menjadi target utama pemahaman kesusastraan. Jadi sastra Islam lebih mengarah pada pembentukan jiwa.
Buku FKII Berkarya (Saat mentari Mulai Menyinariku)
buku ini berisi Kumpulan Kisah pengalaman awal tarbiyah Kader2 FKII Asy-Syams.........
Buku Tahunan FKII
buku ini berisi dokumentasi kepengurusan FKII selama setahun kepengurusan.
Bidang kemuslimahan Forum Kajian Islam Insetif (Fkii) Asy-Syams UIN SUSKA RIAU bekerja sama dengan bidang kemuslimahan DCC SMART Fakultas Dakwah Ilmu Komunikasi (FDIK) menggelar jaulah an-nisa dalam menyambut hari Ibu, di teater FDIK, Jum’at (16/8/2011) acara tersebut mengadirkan pemateri Yuli Nancy. Menurut Neneng, ketua keputrian Fkii Asy-Syams UIN Suska, acara tersebut selain untuk menyambut hari Ibu, juga sebagai mempererat silaturrahmi sesama muslimah se-UIN.” Tujuan diadakan jaulah ini adalah untuk mempererat selaturrahmi dan juga untuk mengingatkan betapa besarnya jasa-jasa seorang Ibu, bahwa seorang Ibu memiliki peran besar yang tidak akan pernah bisa untuk digantikan. Ujarnya. “ Untuk mengingat jasa Ibu tidak hanya di hari-hari tertentu saja, tetapi setiap hari itu adalah hari Ibu.” Tambah Ani, ketua Keputrian DCC SMART. Acara yang berlangsung sekitar dua jam tersebut dihadiri hampir 130 peserta dari berbagai fakultas. Acara kemudian ditutup dengan penampilan Nasyid Salsabila dan salam-salaman.
Karya Ilham Fauzi
Negeri Para Nabi. Bumi Al-Aqsa. 1420 H.
Dzulhijjah menuju penghujung. Menutup selaksa
episode nan lelah menggores. Berselang hari, Muharam kembali datang.
Melantunkan gema lembut. Menggantikan sisiran kisah-kisah dibulan-bulan
sebelumnya. Saat pedih dan bahagia memberi warna. Memberi harap dan tekad baru
agar dihadirkan kisah dari lantunan do’a. Semoga percik-percik kebaikan tak
pernah surut menghampiri.
Namun bagaimana dengan sebuah negeri yang berada di
pesisir laut tengah. Yang diserpih kedinginan sejak Zulkaidah memasuki. Tak ada
aroma gurun yang mempertajam dahaga. Tak ada tarian pasir mempertontokan
badainya yang berputar-putar mengerikan. Dipenghujung tahun, hawa panas tak
begitu hebat menjalar. Takluk karena
kedinginan begitu berkuasa merasuk ke sumsum tulang. Tapi tetap saja
daun-daun kurma dan zaitun tak segar menghijau. Mereka tertunduk tak semangat.
Bukan hanya karena dingin bercokol di titik 25 derajat celcius. Namun karena sebuah
luka. Luka yang tak berhenti mencecerkan darah. Luka di tanah Al-Quds.
-Amir-
Aku memimpikan itu. Ketika kami melewati matahari
pertama di bulan Muharam tanpa mendengar
bunyi-bunyi peluru yang hilir mudik mencari alamat. Namun semuanya mesti
terus terjadi. Peluru itu akan terus
berdansa memuntahkan timah panas. Semua tak akan pernah berhenti. Sebab
hingga aku sepuluh tahun, tak ada sedikitpun jeda untuk tanah ini didiamkan
dari desing-desing yang menyesakkan dada.
Semua tak kami kehendaki. Walau begitu, di
penghujung Hijiriah ini aku, abi, umi, dan Afuf, adikku, akan mengadakan pesta
kecil-kecilan seusai subuh. Di sini tak akan ada peringatan besar-besaran yang
menandakan Zulhijjah telah berlalu. Sebab penjajah tanah ini tak akan
membiarkan semuanya berlalu dengan aman. Mereka akan menambah luka lagi.
Abi membangunkanku dan Afuf seperti biasa. Kami sholat
subuh berjamaah. Abi akan larut sebentar dalam zikir al-matsurat pagi.
Sementara aku dan Afuf bergeming nakal. Selesai itu, abi membukakan pintu dan kami
mulai “berpesta”. Menunggu fajar Muharam menyemburat.
“Tahun baru datang lagi Abiiii!” aku meneriakkan itu
yang juga disusul oleh Afuf dengan terpatah-patah. Ia baru berumur dua tahun.
Umi akan sibuk menyajikan makanan yang lain dari biasa. Tahun lalu umi membuat daging panggang flatbreads1. Untuk sekarang aku meminta manakeesh.2.
Kami memasaknya di luar dan menggotong barang-barang
yang diperlukan. Abi menyalakan api unggun. Kecil saja. Sebetulnya suasana
gelap adalah target yang mengempukkan bagi tentara yahudi melenyapkan kami.
Serangan-serangan biadab itu biasanya dilancarkan ketika gelap masih mengepul.
Yang paling khawatir adalah abi. Hanya untuk satu kali ini saja abi mengizinkan.
“Aku bukan anak kecil lagi Abi. Aku sudah menjadi
abang sekarang. Aku tak takut berhadapan
dengan zionis-zionis itu.” sebuah protesku pada abi yang pernah aku lontarkan.
Abi hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutku. Tak mengatakan sepatah katapun.
Dingin masih berkuasa dengan tahtanya. Umi menggelar
tikar pandan di bawah pohon kurma yang daunnya sangat lebat. Abi menenteng
kompor mini. Dibantu Afuf dibelakangnya. Mengangkut bahan-bahan untuk manakeesh. Seperti minyak zaitun, oregano3, bawang,
rempah-rempah dan saus panas. Selain itu juga diselingi dengan yogurt sederhana
buatan umi dan chai 4 hangat.
Aku menceritakan segala keinginan yang harus terwujud tahun ini. Aku harus
hafal lima juz lagi. Mempelajari AK-47. Afuf juga bercerita tentang
keinginannya. Kami hanyut dalam tawa hingga nanti pagi benar-benar sempurna
dalam kilauan terang.
“Bang Amir! Gelas untuk chai masih didalam. Tolong ambilkan.” Afuf menyela dengan suara
cadelnya.
“Baiklah.” ujarku sambil melangkah ke dapur yang
agak jauh ke belakang.
Aku kembali dari dapur dengan membawa teko berisi
teh hangat dengan hati-hati. Keseimbanganku menggoyah ketika dentuman keras
menggetarkan tanah. Aku terpaku namun tak perlu lagi mengeluarkan tanya.
Roket-roket keji itu mengunjungi rumahku. Tepatnya menghantam pekarangan rumah
dimana abi, umi, dan Afuf tengah berada. Dengan hentakan kaki yang bergerak
kilat, aku merangsek ke depan.
Abi, umi dan Afuf terpental dalam leleran darah yang
membanjir. Sedangkan deru-deru pesawat yahudi mulai menjauh. Aku mulai
terisak-isak. Terduduk sambil memeluk lutut. Aku tak sanggup mendekati mereka.
Sungguh tak sanggup. Aku hanya menatapi minyak zaitun yang dibawa Afuf
tertumpah. Daging-daging yang akan dipanggang umi terpental. Kompor mini abi
tersungkur, sujud di pasir. Aku mulai menangis. Semakin mengeras. Muharam di
sepuluh tahunku menancapkan luka teramat perih.
***
Gaza
dalam merah. 1432 H.
-Nur Putih-
Atas perintah Tuhanku, aku melesat menuju bumi.
Seperti biasa, mencatat apa yang diperbuat manusia di tanah milik pencipta
mereka. Namun tak hanya itu, aku datang untuk menjemput kalian. Mengambil ruh
dalam dua keadaan. Keadaan sebaik-baik rupa. Ditangisi banyak orang. Disholati
dalam banyak shaf. Bahkan terus dikenang. Atau bisa jadi ketika kalian dalam
keadaan seburuk-buruk rupa. Menggumpal dalam beku darah. Mengonggok dalam
tumpukan daging yang mengaroma busuk. Atau dalam keadaan yang sangat
menyedihkan. Hina dalam pandangan
manusia bahkan mungkin juga hina dalam pandangan Rabb-ku.
Gaza meremang pekat. Aku tiba di tanah kematian ini.
Tanah seluas 360 km2. Kembali aku bertasbih memuja Rabb-ku. Tempat
ini benar-benar gelap bagi kalian ukuran manusia. Ritme kehidupannya tak
terlihat menghembuskan nafas. Sama halnya ketika aku melintas di Tepi Barat. Bahkan
Baitul Maqdis yang mampu menampung hingga dua ratusribu umat, sunyi tak
bernyawa. Mendiam. Menyatu dalam bekuan dingin.
-Nur Putih-
Mereka memanggilnya dengan Amir. Aku mencatat ia
yang selalu terjaga dalam sujud panjang disepertiga malam terakhir. Melantunkan
hafalannya yang sempurna 30 juz. Wajahnya kilat bercahaya. Tak salah Tuhanku
mengatakan bahwa manusia adalah sebaik-baik mahkluk. Tapi hanya manusia-manusia
pilihan-Nya.
“Amir, bagaimana kalau kita melakukan pengungsian
dulu ke Tepi Barat. Di sana kita bisa menyatukan semua kekuatan yang berada di
Betlehem, Hebron, Ramallah juga di Jerusalem. Setelah itu kita bisa kembali ke
sini merebut Gaza. Bukankah Allah akan terus bersama kita.”
Wajah yang masih muda itu menatap ke wajah yang baru
saja berbicara. Kemudian mengulas senyum. Dengan tenang ia beujar. “Gaza
memanglah tanah kering yang tak punya kekayaan apa-apa. Meski begitu, ini
adalah tanah kita. Kita tak boleh meninggalkannya sedetikpun dan membiarkan
mereka mendudukinya. Kekuatan kita akan tetap di sini. Sementara di Tepi Barat
biarlah mujahid di sana mengatur strategi.”
Wajah itu tertunduk. Tak lama, pertemuan sembilan
orang itu berakhir. Mereka meninggalkan
ruang rahasia tempat mereka biasa mengatur strategi. Siasat perang selanjutnya
telah diatur.
Sekarang tugasku di sini.
Aku akan berhadapan dalam sepenggal cerita yang bertaruh nyawa. Atas perintah
Rabb-ku, kali ini aku menjelajahi tanah Al-Quds.
-Nur Putih-
Mereka yang mengajarkan
kami perang. Semenjak mereka merenggut abi, umi dan Afuf, aku juga tak akan
berhenti memerangi kalian. Tidakkah pernah kalian rasa, jika dengan tiba-tiba
kalian kehilangan orang yang kalian cinta wahai yahudi terkutuk? Apa nurani
kalian demikian tertutupnya sampai-sampai kalian hanya memikirkan kepentingan
kekuasaan kalian saja. Takkah terpikir, Tuhan menghadirkan tanah ini bukan
untuk kalian semuanya. Tuhan juga memberikannya untuk kami. Takkah terpikir
yahudi? Takkah?
Ia sesegukan mengucapkan kata-kata itu. Hanya sebentar.
Kemudian ia menulis beberapa menit. Kulihat ia meneteskan air mata. Degup
jantungnya berdetak cepat. Perlahan tetes peluh muncul dipelipis dahinya. Ia
menghembuskan nafas dan menyandarkan tubuh.
Walau ruangan itu tidak besar tapi isinya padat. Di
sana terdapat banyak kitab-kitab. Di dinding ditempel peta Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Beberapa senjata dan peralatan medis tergeletak begitu saja. Aku pastikan
ruangan ini merangkap sebagai ruang pribadi sang Amir.
-Nur Putih-
Mereka kembali melakukan misi. Menyusuri setapak
jalan yang merona digelap dini hari. Langkah-langkah itu berderap melintasi
semak belukar. Tembok-tembok yang dibangun yahudi sepanjang daratan agak
menyulitkan. Namun mereka selalu punya cara. Posko-posko yahudi yang berada
disepanjang jalur gaza harus dihancurkan. Mereka akan terus membunuh
warga-warga Gaza yang lewat dengan semaunya.
AK-47, roket anti tank RPG, ranjau, dan beberapa
jenis roket lokal menunggu untuk dimainkan. Bersiap melawan tank Merkava,
pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih”
buatan Amerika Serikat.
Meski dengan senjata
itu cukup menyulitkan kalian melawan Israel, tapi kekuatan Rabb-ku akan selalu
mengiringi kalian. Aku siaga manusia putih. Aku siap kapanpun membawa kalian.
Dengan senang hati. Akan kuhantar lansung menuju firdaus-Nya atas izin
Tuhan-ku.
-Nur Putih-
Aku kembali. Di ruangan sempit dan kecil milik Amir.
Tempat ia menghabiskan malam-malamnya dalam sujud panjang. Diiringi luruhan air
mata yang membasahi sajadah.
Lengang. Mereka masih dalam perang yang menitikkan
darah. Kulihat kertas yang pernah ia tulis. Aku menyentuhnya.
Menuju
Muharam baru. Tahun harapan.
Jika di tanah
ini air tak lagi bisa menyelamatkan segalanya, biarlah. Jika di tanah ini angin
juga tak lagi datang membawa kabar pertolongan, juga biarlah. Bahkan sampai
tanah ini juga tak mengizinkan lagi untuk hidup di sini, tetap biarkanlah. Bukankah
semuanya masih bisa terus dilanjutkan? Meski mereka tak lagi sahabat kita,
meski mereka mengabaikan kita, meski mereka menzalimi kita, dan meski mereka
menistakan kita.
Kita tak perlu
khawatir apalagi takut. Sebab bukankah di sini kita masih berdiri membentuk
lingkaran. Selama rantainya masih erat, semuanya akan baik-baik saja. Di sini
masihlah ada pemuda-pemudan-Nya yang teguh memegang janji. Pemuda-pemuda yang
tak akan mundur ketika tanah-Nya digumuli kenistaan. Pemuda yang tak akan berdiam
diri jika saudaranya dibinasakan.
Namun jika
akhirnya tetap ada yang mengkhianati kita, kita juga tak perlu takut. Sebab
kita akan menunjukkan betapa dahsyat kekuatan kita. Semuanya selama kita tetap
berpegang erat dalam satu jalan. Satu jalan menuju kemenangan Palestina.
Sebuah pesan. Pesan kematian untuk menemui Rabb-ku.
Tanah Al-Quds takkan pernah berhenti mengurai cerita merah. Semoga jundi-jundi
kecil Allah membacanya dan meneruskan perjuangan sang Amir.
-Nur Putih-
Mereka masih belum kembali. Aku bersiap meninggalkan
tempat ini. Menemui Rabb-ku. Aku belum ditugaskan untuk membawa mereka.
Pintu berderit. Nafasku tertahan. Hanya Amir yang
akan memasuki ruangan ini sendirian. Dan dia bukan Amir. Seseorang yang
mengusulkan agar semua kekuatan dipindah ke Tepi Barat. Dengan senyum licik
mengeluarkan barang digenggamannya. Peledak waktu kiriman Amerika. Ia
menyelipkan diantara kitab-kitab. Tak sampai satu menit ia keluar. Semuanya
telah ia pastikan dengan baik. Ia menjamin satu jam lagi mereka akan kembali.
Setelah itu….
Pintu kembali tertutup.
Kertas yang ditulis Amir tertiup dan menyungkur dihadapan tanah.
Jalur GaSa, 28 November
2011

















