Tampilkan postingan dengan label Kisah Awal Masuk Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Awal Masuk Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Oleh:Taka tanika
Kawan, ini lah kisah pertama aku mengenal tarbiyah. Dari SD aku sudah dititipkan kedua orangtua di sekolah islam yang bernama Muhammadiyah. semua orang tahu bahwa Muhammadiyah adalah sekolah swasta berbasis islam. Berlanjut ke SMP, aku masuk SMP swasta yang juga berbasis islam. SMA pun begitu. Di SMP dan SMA aku menuntut ilmu di yayasan yang sama. Yayasan itu bernama YPIT Mutiara Duri-Riau. Kalau dikaji dari biaya operasional, sekolah ini sekolah yang mahal dan hanya bisa dijangkau oleh kalangan atas. Maklum saja sekolah swasta. Kalau Masalah kualitas tidak diragukan lagi. Setiap hari masuk pukul 07.15 pulang pukul 15.30 usai shalat ashar. Begitu setiap hari. Sehingga kekhawatiran orang tua terhadap aktifitas anaknya dapat terminimalisir karna lebih banyak menghabiskan hari di sekolah.
Tapi satu hal yang harus dirimu tahu kawan. Aku bukan lah anak orang kaya yang sanggup membayar biaya operasional setiap bulannya. Berbekal beasiswa dari yayasan aku mendapat fasilitas dan tempaan yang setara dengan teman-teman yang lain. Kawan, pada umumnya guruku adalah orang-orang yang tertarbiyah. Di dalam kelas, mereka tidak hanya memahamkan tentang matematika, bahasa Indonesia, bahasa inggris dan mata pelajaran lainnya. Mereka mengajarkan nilai kebaikan dan bertutur benar kepada orangtua. Bersikap jujur dan mengajarkan kejujuran. Mereka sering mengangkat kisah hidupnya untuk meyakinkan kami. Mereka cerdas, jujur, berwibawa dan sabar. Aku takjub pada kepintaran mereka dalam memahamkan kami terhadap pelajaran. Aku kagum pada wibawa mereka yang tidak dibuat-buat. Dan aku salut pada kesabaran mereka dalam menghadapi beragam tingkah laku kami. Cerita seorang guru yang sampai hari ini masih kental dalam ingatanku. Beliau wali kelasku ketika SMP kelas satu. Selain cantik, dia adlah sosok yang mementingkan penampilan. Banyak nilai plus untuknya di mataku. Aku senang mendengar petuah dan motivasi darinya. Ketika itu dia bercerita tentang perjuangannya mengenakkan jilbab yang berawal ketika SMA. Beberapa kali jilbabnya dilepas secara paksa. Tapi beliau tidak menyerah. Bahkan mengulanginya setiap saat. Buraian airmata tentu mengokohkannya. Kontra dari pihak keluarga tidak menyurutkannya untuk istiqomah. Sulit dipercaya pada akhirnya, keluarga yang menentangnya pun mengikuti langkahnya mengenakkan jilbab. Aku tersenyum sendiri mengingat cerita tersebut. Aku juga ingin mengenakkan jilbab tiap kali berpergian atau bahkan ketika duduk-duduk diteras rumah. Ketika itu aku malu mengenakkan baju yang pas di badan. Aku merasa tidak nyaman karna payudaraku sudah mulai tumbuh. Sering ku tarik baju disekitar dada agar tidak membentuk payudara. Walhasil bajuku menjadi jelek. Ada keinginan dalam hati ku untuk mengenakkan jilbab agar aku senantiasa leluasa tanpa harus menarik baju. Tapi keluargaku bukanlah keluarga yang paham tentang aurat. Pemahaman agama kami sebatas rukun islam. Syahadat, shalat, puasa, dan zakat. Kalau haji, entah kapan kami bisa naik haji. siapa tahu kisahku akan sama seperti wali kelasku. Berujungn manis. Sampai kelas tiga SMP aku belum bisa mengenakkan jilbab kemanapun aku mau. Aku baru bisa mengenakkannya ketika ke sekolah dan ke pasar. Keterbatasan baju yang aku punya juga menjadi penghalang bagiku untuk memenuhi keinginan tersebut. Saat itu aku berfikir untuk menjadi orang kaya. Aku harus kaya. Selama ini baju yang aku pakai lebih banyak dari pemberian sanak dan keluarga apakku. Lengan pendek dan merisaukan. Syukurnya aku selalu mengenakkan celana panjang di luar dan di dalam rumah. Aku tahu. Jacket. Yeah, aku butuh jacket agar gampang dipakai dan dilepas. Ku buat janji dengan diriku “ kita nanti aku sudah punya jacket, aku tak lagi telanjang kepala duduk-duduk di teras rumah bahkan di dalam rumah”. Aku ingin memelihara auratku.
Mulai hari itu aku menabung untuk membeli jacket. Interval Di penghujung kelas tiga SMP, aku berhasil membeli jacket dengan uang ku sendiri. Sebagaimana janji ku. Aku akan menjaga auratku dari yang bukan muhrim. Hari pertama aku mengenakkan jilbab di rumah. Semua orang bertanya “ hendak kemana?” “ tidak kemana-mana” “rapi sekali” “ ” kubalas dengan senyuman. Mental ku belum total. Aku butuh 20% lagi untuk meyakinkanku. Bila tiba-tiba ada yang mengejek dan mencemooh aku belum siap. Apalagi apakku. Raja cemooh. Maklum saja, kami orang minang yang cemoohan dan sindirannya sudah dikenal. Oh, tidak. Kekhawatiranku kini terjadi. Apak menentangku habis-habisan. Beliau mengatakan aku aliran sesat, cepatlah taubat sebelum sesat lebih jauh katanya. Beliau sering marah ketika aku terlambat datang memenuhi panggilannya yang sedang duduk-duduk di teras. Dua detik saja menunggu, beliau marah. Padahal aku sedang menyorong jilbab dan memasang jacket. Beliau juga bilang aku tambah budeg alias tuli semenjak menggantungkan sehelai jilbab di kepalaku. Aku sedih, bahkan ingin menangis. Aku tak sanggup membantah kedua orangtuaku. Bagaimanapun aku akan tetap menjadi anak baik untuk mereka. Aku selalu mendo’akan mereka dalam shalatku. Kuadukan pada Allah keinginanku untuk menuju kekaffahan. Aku pun meminta pendapat dengan guru-guruku. Kuamalkan solusi yang mereka sarankan. Man jadda wa jada. There is a will there is a way. Memasuki usia SMA, kontra dengan apakku belum berujung. Kucari jalan keluar. Dengan keyakinan yang sempurna kuminta pada Allah agar mengikat erat hatiku dengan mereka. Aku semakin santun. Turut ku bantu mereka dalam membina adik-adikku. Aku ingin amak dan apakku merasa beruntung memiliki anak sepertiku. Dengan seperti ini, aku mendapat simpati. Lambat laun lampu hijau menyala untukku. Aku bisa memakai jilbab kemanapun aku suka. Bahkan aku mendapat kepercayaan untuk membina adik-adikku dalam urusan agama. Aku semakin gencar dengan misi ku. Sampai hari ini, tekadku belum pudar. Aku akan menjadi murabbi bagi adik-adikku.
Oleh: Abdul Muhadi BS
“Tarbiyah bukanlah segalanya, tapi segala sesuatu berawal dari tarbiyah.” Aku setuju dengan istilah ini, sangat setuju. Karena tarbiyahlah aku bisa meraih jejak-jejakku yang membanggakan, alhamdulillah. Berikut ini aku hikayatkan jejak tarbiyahku di negeri junjungan ini. Di kotaku bersepeda memang dianggap sesuatu yang asing. Maklumlah kota yang masih mengedepankan segala sesuatu harus model dan modern. Apalagi saat bersepeda sambil memakai pakaian muslim berbajukan koko dan kopiah, maka dipastikan mata-mata aneh akan melirik asing. Tapi jangan khawatir sepedaku ini akan terus melaju melesat cepat di antara gedung-gedung tinggi menelusuri jalan berlobang sana-sini dengan semangat yang tinggi. Walaupun badai menghadang, hujan menghujam, angin malam mengibas, lelah menderu tubuh, aku tak peduli tetap akan menghadiri majlis ilmu alias halaqoh malam ini sebagai pengecas bateraiku yang sudah lowbat, dan yakin setelah itu badanku akan terisi semangat seperti semangatnya para mujahid mujahidah di Palestina. Makanya kalau ketemu dengan kawan karibku aku selalu bilang, “Hari ini nggak halaqoh, nggak keren…!” Usai solat isya rutinitas ini menjadi penyeimbang hari-hariku dalam satu pekan. Sudah pastinya aku ingin menjadi pendakwah yang tangguh jadi harus sabar ketika motor-motor keren berkelebat melaju sampingku, mobil-mobil indah pun dengan ornament klasiknya selalu membuka kaca mobilnya melirikku aneh namun aku tetap mengayuh sepeda di tengah kota metropolitan ini menuju tempat halaqoh. Aku tak pedulikan mereka yang penting halaqoh-ku malam ini harus full motivasi. Kalau dipikir-pikir jalan kaki ke majlis ilmu ini akan menghabiskan banyak waktu jadi mendingan naik sepeda hemat waktu. Waktu itu bagaikan emas, dapat sudah emasnya. Materi yang pernah diberikan murabbi-ku (guru) di majlis ilmu ini memang luar biasa mulai dari tafsir al-Qur’an, hadits-hadits yang tiada duanya kemudian materi 20 Ushul Hasan Al Banna sang revolusioner dakwah Islam itu juga banyak materi lain yang sudah memenuhi agenda harianku, harap bisa diterapkan dalam aktifitasku sehari-hari. Yang asyiknya lagi bisa curhat dengan murabbi bisa seputar masalah kuliah, sosial atau hal persahabatan, bahkan masalah pernikahan juga boleh. Dan akan diberikan solusi serta obat mujarab gratis dari beliau, hidupku jadi tenang bersama tarbiyah. Hawa malam itu kian mencengkam tubuhku ditambah lagi banyaknya aktifitas di kampus. Selain menjadi mahasiswa ilmu bahasa aku juga aktif di berbagai organisasi kampus. Pernah aku bilang sama kawan-kawan halaqoh-ku, “Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Kalau ada 3K+OK+H (Kampus, Kantin, Kost, Organisasi Kampus dan Halaqoh) kenapa harus cari yang lain.” Azam. Nama halaqoh-ku yang diambil dari tekad yang kuat dan kreatifitas kawan-kawan untuk berbuat kebaikan, majlis ini rutin membuat jejak buletin bulanan yang rubriknya diambil dari penjelasan dan untaian kata murabbi juga ditambah pernak-pernik kata hikmah satu menit kami ucapkan sebelum dimulainya halaqoh. Buletinnya kami sebarkan ke kalangan siswa dan mahasiswa setempat, juga menebarkan kasih sayang sesama muslim dengan infak tiap bulan untuk membayarkan SPP sekolah bagi anak-anak yatim. Yang luar biasanya lagi saat ini halaqoh Azam kami sudah mempunyai yayasan yang dikelola secara syariah. Mulai dari bimbingan belajar Islam terpadu, toko buku islami, juga tak kalahnya ada pelatihan tahfidz dan tahsin qur’an, nasyid dan seni kaligrafi. Visi majlis ini ingin menyebarkan syumuliyyatul Islam (Islam agama universal) agar nuansa keislaman itu menyebar di kota berlimpah nikmat minyak ini. Malam itu aku lihat kawan-kawan se-halaqoh sudah pada berkumpul di tempat biasa kami bertemu. Sambil menunggu murabbi dan cipika-cipiki sana sini kami berbagi hikmah satu sama lainnya, ada juga yang sempat ganti-gantian pijit. Tidak beberapa menit kemudian bunyi motor khas murabbi kami terdengar dari depan rumah, kami pun siap-siap menyimak materi karena murabbi bawa oleh-oleh ilmu hari ini. *** Sepulang halaqoh tigerku (sebutan nama sepedaku) meluncur kembali di jalan raya tengah malam itu tapi dalam hati telah berkobar bendera-bendera semangat baru sebagai mujahid muda. Aku terjebak banjir sejengkal mengguyuri jalan raya tetap kuputar lebih kuat sepedaku. Kalaupun ada razia di jalan raya nanti tigerku tak akan ditahan pak polisi karena bebas razia, bebas bensin, bebas helm, bebas SIM dan STNK. “Terima kasih ya Allah yang telah memberikan azam dalam diriku hingga bisa halaqoh malam ini. Semoga juga kawanku yang lainnya bisa juga merasakan tarbiyah dan hadir dalam jalan dakwah ini. Amiiin..,” aku lafazkan doa saat tiba di kamarku. Selain itu ada hikayat menarik juga yang kutulis dalam catatan harian yang berjudul, “Pak Polisi Juga Manusia, Punya Rasa Punya Hati.” Peristiwa ini terjadi saat kami akan halaqoh di salah satu rumah kawan se-halaqoh. Tempatnya agak jauh kalau ditempuh dengan opelet sekitar 45 menit dari rumahku, jadi aku lebih pilih nebeng dengan kawanku yang ada motor, karena takut telat jadi aku tak sempat mencari helm. Dalam perjalanan kami tak terbesit sedikit pun akan ada razia polisi karena biasanya di kotaku malam-malam jarang ada razia. Tapi tanpa kusadari malam itu aku dan kawanku terkejut dengan polisi yang memakai jaket orange sudah berdiri samping jalan raya yang agak gelap itu. Trik pak polisi dalam razia memang keren, semua lampu jalan raya dimatikan sehingga membuat jarak pandang kami buram. Kami jadi salah satu mangsa malam itu dan pak polisi yang berkumis tebal menyuruh kami menepi. Kawan-kawan halaqoh yang lain sudah pada lewat selamat dari razia karena lengkap cuma kami berdua yang tertahan. “Maaf, malam pak!” “Wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh!” Kami jawab sapa pak polisi, mungkin karena grogi ketemu dengan polisi jadi jawab sapanya tak nyambung tapi mantap juga untuk syiar Islam. “Maaf, apa kesalahan bapak?” “Kami tak pakai helm pak,” cengar-cengir kawanku menjawab. “Begini pak kami tadi buru-buru karena malam ini harus ikut majlis taklim, jadi tak sempat cari helmnya,” aku beralasan. Melihat tampang kami saat itu pakai baju koko dan peci juga bawa al-Qur’an pak polisi langsung percaya, ia langsung melapor ke komandannya yang duduk samping jalan. Semoga kami dibebaskan dari razia, dan yang paling penting niat baik tak akan luntur dengan ujian kecil seperti ini. “Besok jangan diulangi lagi ya!” ucap pak polisi mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah kami selamat, mungkin pak polisi kasihan dengan kami atau malah sebaliknya takut dengan kami yang berpakaian ala muslim semuanya, tapi kami bukan teroris. *** Dalam tarbiyah aku merasakan keseimbangan ruhiyyah (keimanan) dengan baca al-qur’an dan al-ma’tsurat, fikriyyah (pemikiran) dengan materi tarbiyah, dan jasadiyyah (fisik) dengan mukhayyam (perkemahan) atau rihlah (traveling) ataupun riyadhoh (olahraga). Gara-gara tiga keseimbangan inilah aku menjadi mahasiswa peraih jejak IPK tertinggi di fakultas, menghasilkan lima buah buku dalam kurun 10 bulan, bisa juga melanjutkan kuliah S2 di negeri Malaysia, tamasya budaya ke negeri Melaka, dan tak kalahnya lagi bisa meraih tiga perempat dari 100 jejak-jejak hidup yang kutulis dalam dua lembar kertas dalam kurun waktu tujuh bulan. Luar biasa bukan doa dan tarbiyah? Makanya tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak halaqoh walaupun harus bersepeda atau malah jalan kaki. Karena aku ingin seperti liriknya nasyid Izzatul Islam.. Ribu langkah kau tapaki Pelosok negeri kau sambangi Tanpa kenal lelah jemu Sampaikan firman Tuhanmu Terik matahari tak surutkan langkahmu Deru hujan badai tak lunturkan azammu Raga kan terluka tak jerihkan nyalimu Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu Semua makhluk bertasbih Panjatkan ampun bagimu Semua makhluk berdoa Limpahkan rahmat atasmu Maka aku tak akan ragu hidup bersama tarbiyah yang menjadikan pribadiku tangguh dan seimbang dunia serta akhirat. Dengan senyum aku lafazkan, “Selamat meraih jejak-jejak dari tarbiyah.”*** Rumah Enrakolis, April 2011
Oleh: Rudi Rendra
Hem banyak hal menarik yang saya alami semasa menjalani aktifitas di wajihah dakwah yang tumbuh di lingkungan kampus. Dari interaksi dengan berbagai jenis manusia, saya berharap saya terjaga dari lupa kalau kita adalah kader dakwah, boleh berinteraksi tapi jangan terkontaminasi, oke . Saya akan ceritakan beberapa kejadian yang unik, semoga bisa kita ambil ibrohnya. Selamat membaca. Dan silahkan tertawa.
Pertama kali saya ikut kegiatan dakwah kampus, pertama yang saya lihat adalah cara berpakaian kakak senior, serba Eiger, sendal eiger yang kayak pendekar wiro sableng, trus tas ransel, dan tentunya jaket aktivis, hem saya Tersepona(red: terpesona), dan tentunya meniru, dalam proses peniruan ini tidak ada maslah yang begitu berarti, dalam sekejap saya sudah disulap jadi aktivis, tapi baru bajunya saja.
Dan ada lagi nih hal yang lucu tentang, penyebutan kata yag sering diucapkan kader, “ Antum” hehe maklum ketika baru masuk sempet keseleo, nyebutin kata “ Antum”, contohnya: mas antum! Mau kemana. Ikut dong! Sebelum tau kesumbangan itu, rasanya gak ada yang aneh, tapi setelah, saya mulai paham dikit tentang bahasa arab, saya malah dibuat tertawa sendiri, seharusnya kata-kata yang benar adalah sebagai berikut;
“ Akhi, antum mau kemana?!”
“ Mas,(koma) antum mau kemana?”
Secara kaidah, boleh dong sedikit kita kaji, kata antum itu diucapkan sebagai kata sapa, yang artinya, kamu (seorang/ mufrod yang gunanya untuk takzim, atau menghormati) dan antum juga dapat kita artikan, kamu semua laki-laki. Untuk lebih jelasnya belajar deh bahasa arab yang baik dan benar. Karena banyak loh keutamaannya, !
Terus, setelah saya tahu sedikit tentang bahasa arab, maka saya sedikit tergelitik untuk mengangkat masalah ini!, pengucapan takbiruu...! (ayo bertakbir) sungguh gak jelas, kalau mau di tasyrifkan, pengucapan kata perintah (amer) maka pengucapan yang benar adalah, kabbiruu!!! Ayo bertakbir! Allahu akbar, sudah ya jagan kita ulangi lagi, saya gelisah aja, tapi memangsih kesalahan yang tidak fatal, namun jika diteruskan maka seperti saya anak PBA (Pendidikan Bahasa Arab) akan mengerutkan dahi, menahan rasa yang aneh, yaitu isin(red :malu. Bahasa jawa).
Oke, untuk selanjutnya saya ingin bercerita tentang berbagai jenis sms yang pernah masuk, mulai dari sms lebai versi kader, sms –godaan, teror, de el el cek it out!
Hem... memasuki semseter ke -2, kegitan mulai padat, akitvitas pribadi seperti tidur siang dan berleha-leha sukar ditemui lagi, maka disaat itu jugalah berdampak pada aspek kehidupan saya yang lain, yaitu masalah istijabah tiap kali amanah dan sms memenuhi inbox. Sebuah kejadian, ketika itu saya mendapat amanah disebuah kepanitiaan, dan kebetulan ketika itu saya, icak-icaknya lagi sedih-lah, berulang kali dan bertubi-tubi sms demi sms memborbardir masuk inbox BBku, dikarenakan lagi diterpa masalah kulaih IPK yang menurun dan mata kuliah yang berat so, saya jadi gak respon dengan sms-sms itu, begitulah kalau seorang ikhwan sedang sedih, lesu, menyendiri, menghindar dari hiruk-pikuk aktivitas Dakwah, akan dalam memasuki dunianya, tak hendak diganggu sedikitpun. Hem saya sadari ini gak sehat, jelas menghambat dakwah, saya sempat menyesal dengan perbuatan ini, ternyata, sms-sms itu adalah taklimat, untuk syuro yang mesti segera dipenuhi. rekan-rekan ikhwan dan akhwat, protes keras. Yang intinya saya mengabaikan panggilan jihad. dari kejadian ini saya berkesimpulan tentang psikologi akhwat kader dakwah, ternyata akhwat atau perempuan itu,
*suka ketidakpastian yang berlarut, butuh ketegasan sikap. Saya sarankan kepada para pria untuk sesegera mungkin membalas sms akhwat dengan baik untuk menghindari konflik seperti diatas.
Disisi lain, ternyata ikwan kayak saya ini, seperti penjelasan berikut,
*pria yang sedang dilanda masalah tidak ingin diganggu, bahkan ketika kadar masalahnya cukup tinggi, ia tidak ingin diganggu oleh amanah dakwah, ia lebih memilih sendiri dan tidak bertemu dengan orang orang untuk sementara waktu
Harapannya, dengan memahami karakter masing-masing ini, semoga kita dapat saling melengkapi dan tafahhum. Trus kita juga mampu menjaga akhlak dalam berinteraksi dengan lawan jenis.
Masih tentang sms. ternyata Membahas masalah sms juga gak ada habis-habisnya, sekarang sms ini sedikit berbau VMJ, (Virus Merah Jambu) hem, ini adalah salah satu diantara masalahnya, seharusnya lebih ketat menjaga hijab dan akhlak hubungan antara ikhwan dan akhwat. Coba deh perhatikan,
“ Assalamualaikum, ukhti kayfa khaluki? Gimana katanya sakit, udah mendingan?” (ehem)
“ Alhamdulillah udah baikan, udah bisa kok, diajak syuro lagi, syukron atas doanya”
“ Waah kalau gitu, kapan kita bisa syuro lagi”
“ Hem, kapan yach, kalau besok sore aja gimana? Di komsat, “
“ Siiip! Oke deal! Besok bada asar di Komsat ya, infokan ke akhwat yang lain,”
“ Laksanaken bosz...!, semga Allah kuatkan kita di jalan ini”
“ Ya, makasih ukh, maan najah, wassalam”
“Walaikumslm wr wb”
Ups! Gak sempat disensor, tapi semoga rekan kader dakwah & pembaca yang budiman, paham sehingga sensor itu selalu ada di hati selalu merasa diawasi oleh Allah, sekarang saya udah paham. Saya bertekad untuk siap memperkuat basis kesolehan pribadi, menuju kesolehan ummat. Amin.
Trus ada lagi kejadian, masih seputar sms. Setelah saya mengikrarkan sumpah setia atau komitmen untuk soleh wa yuslieh (baik dan memperbaiki), ternyata Allah ingin menguji sekuatmana keimanan dan komitmen saya untuk selalu dalam batasan syari, menghindari berbagai godaan yang datang, ehem salah satu godaan itu datang dari masa silam, masa dimana celana saya masih berwarna abu-abu, dan baju putih tutwurihandayani, sms dari sidia menyapa menghembuskan wewangian syurga yang haram untuk dihirup sekarang, jika dihirup tentu di syurga kelak saya takkan dapatkan huurun aen, bidadari syurga. Namun sempat juga saya terbawa arus, astagfirullahhal adzim!!! Hazihi musykilah kabiiroh!
Bagaimana kisah selanjutnya?
Nah ini dia, saya tersadar telah jauh dari akhlak seorang pemuda muslim ideal, ketika mengikuti acara mabit di DJ (Darul Jannah), yaitu best cam-nya kader KAMMI, karena UIN SUSKA sendiri belum selesai membangun masjid. Ketika itu yang mengisi taujihnya diisi oleh ustadz Yunus L.C, wah luar bisa, beliau berkata bahwa “ penghambat dakwah itu adalah orang yang, tidak komitmen dengan batasan syari” lalu saya bertafakur, merenungi diri yang ternyata telah tergolong dalam golongan penghambat dakwah. Penyesalan terbit, sms-sms “sampah” dan nomor HP perempuan yang tak jelas yang saya nilai berpotensi mengajak kejalan kiri, saya delete .... “jangan ganggu saya lagi.!” Saya berazam dalam hati.
Akhirnya, sms-sms yang bernada melangkolis romantis najis, berubah jadi sms-sms haroki yang berinterval tinggi, tuk tegakkan takbir di jiwa dan raga, supaya terbangun sensitifitas terhadap kebaikan. Semoga kita termasuk pada golongan ‘’ulul albaab” yang berfikir, dan mampu mengambil ibroh disetiap pengalaman. Wallahu a’lam.
oleh:Nellya Chusnita
Berangkat dari selembar kertas berisi sebuah pengumuman ketika awal masuk sekolah menengah atas dulu. Kertas pengumumannya biasa saja, dengan kemampuan design yang biasa pula, tulisannya warna hitam dengan page border daun hijau dan bunga merah, isinya hanya ajakan mengikuti suatu kegiatan dengan embel-embel teman,ilmu dan outbond, dan dinamakanlah kegiatan itu ROHIS. Nyaris tak ada yang menarik dari kertas itu, hanya kata ‘outbond’lah yang pertama jadi perhatian. Karena penasaran, jadilah aku datang ketempat dan waktu sesuai petunjuk dikertas itu, setiap Jumat jam 11.30 (pulang sekolah).
Sampai disana, ternyata tak ada yang namanya outbond, yang ada malah rujak party, lalu ditutup dengan mengajak yang hadir pada hari itu untuk datang setiap hari jumat (khusus wanita) sepulang sekolah, dan hari sabtu sepulang sekolah juga (bagi pria). Masih diberondong rasa penasaran, akhirnya datanglah setiap jumat disana. Acaranya ternyata kajian melingkar yang aneh; diawali dengan tilawah, disambung dengan ‘cerita’, lalu ditutup dengan doa, bersama satu (kadang 2-3) orang dari luar sekolah itu, yang belakangan aku kenal sebagai kakak mentor. Pakaiannya aneh dan terkesan sangat ustazah. Ceritanya seputar keMaha-an Allah swt, kegagahan nabi-nabi, kesetiaan sahabat, kasih ibu, dan yang paling menarik, cinta... dan lain-lainnya yang sering membuatku sangat mengantuk. Semua aku jalani selama berminggu-minggu hanya untuk memuaskan penasaranku tadi.
Setelah berbulan-bulan, acara ini semakin membawaku tenggelam bersama sejuknya kata-kata mentorku, candaan-candaan kakak-kakak tingkatku, dan nasehat-nasehat teman sebayaku...wah..menyenangkan. Aku sudah lupa dengan outbond, bahkan pernah rela mendapat semacam tamparan dari guru sekolahku lantaran piket kelas yang kurang bersih, waktu itu sudah keburu terlambat, karena keasyikan menjalankan piket di mushalla.
Pernah juga, bersama sahabatku -yang paling aku sayangi- membersihkan mushalla. Waktu itu tiba giliran piket bidang mikat (minat dan bakat, kepengurusan ROHIS sekolah), hanya berdua saja, dua orang anak perempuan kelas X SMA. Dan itu kami lakukan tanpa ada keluhan-malah cengengesan- dan sempat ‘bercanda’ dengan binatang kecil penghisap darah yang sembunyi direrumputan lembab sekitaran mushalla. Juga ketika kebagian tugas mengawal kegiatan pesantren kilat ramadhan, aku bersama teman satu timku sukses membuat adik-adik kami merasa sangat bosan dan menikmati acara yang jauh dari kata menarik.
Tidak terasa memang, ketika semua itu membentukku menjadi lebih baik (setidaknya itu yang kurasakan). Dari sana aku banyak belajar, tentang arti keikhlasan; tanggung jawab; kejujuran; mengerti orang lain; saling menyayangi; team work; manajemen waktu; sampai dengan memanage hati. Mulai dari memakai jilbab dua kali sepekan -waktu itu hanya ketika disekolah- sampai mengulurkannya lebih panjang lagi. Lalu tentang keistiqomahan baik dari segi berpakaian, akhlak dan amalan lainnya. Diteruskan dengan yang mulanya salat bolong-bolong, sudah mulai dirapikan dan konsisten. Kemudian yang dulu tilawahnya masih terbata-bata, hingga sudah menyelesaikan tahsin. Dulu yang tidak mengenal apa itu qiyamullail dan dhuha, sudah mulai mengerjakannya. Dulu yang masih kurang santun dengan orang tua, kini lebih lembut dan menurut.
Semua itu bukannya tanpa perjuangan, pahitnya harus dirasakan, jalannya tidak mulus, butuh waktu yang panjang untuk mencapainya. Cahaya –begitu aku menyebutnya- itu tak datang tanpa dijemput. Ia mesti dijemput dalam suatu tempat dimana terdapat manusia shaleha yang berkumpul mengkaji ilmu dan konsisten belajar dengan keikhlasan. Dimana manusia-manusia pembelajar itu dinaungi para malaikat, tempat itu kusebut majelis malaikat.
Walau demikian sulitnya, Cahaya itu sungguh indah, jalan itu sungguh manis, rasanya tak ada jalan lain yang ingin kutempuh. Tapi, wajar jika nanti ada yang berbelok, tapi semoga ingat jalan berbalik. Begitulah, awal mengenal Cahaya... terasa asing, lalu menerangi, sampai akhirnya tak ingin melepasnya...
oleh:Alfikri Fauzi
“Assalamualaikum wara matullahi wabarakatu”
Pertama dan utama sekali marilah kita panjatkan puji syukur kita kehadirat Allah swt, atas nikmat dari-Nya lah kita bisa bersilaturahmi lewat rangkaian kata di surat ini.Dan tak bosan-bosan pula kita menyampaikan shalawat beriring salam kepada Arwah Junjungan kita yakni Nabi Muhammad Saw.Karena berkat perjuangan beliaulah kita bisa merasakan manisnya proses Tarbiyah dan bisa merasakan Indahnya menjadi seorang Muslim.Mudah-mudahan dengan banyak bershalawat kepada beliau kita mendapatkan syafa’at darinya di Yaumil Masyhar kelak. Amin!!!!
Alhamdulillah, sebelum saya masuk ke dunia Putih yakni kalangan Ikhwan,saya sudah termasuk orang Hanif.Sejak MDA saya sudah mempunyai bakat dalam bidang dakwah yakni selalu Rangking Pertama di kelas dan selalu menjadi Juara 1 dalam perlombaan ceramah yang diadakan di MDA.Dan didikan dari orangtua saya cukup baik,karena mereka melarang saya untuk keluar pada malam hari. Jadi, saya hanya boleh keluar malam jika ada urusan penting(Syar’i).
Dan ketika SMP pun bakat saya semakin diasah,karena ketika di SMP saya selalu menjadi Petugas Kultum jika ada Guru yang berhalangan.Dan ketika SMP ini lah,saya mendapatkan gelar baru dari teman-teman dan Guru-guru yakni julukan yang pada saat ini sebenarnya saya belum pantas untuk mendapatkan yakni “Ustad”.Ketika teman-teman bertemu dengan saya, mereka selalu memanggil saya Ustad.
Dan saya mulai mengenal dunia Liqo’/Mentoring yakni ketika saya menginjakan kaki saya di dunia abu-abu putih atau masa SMA.Ketika itu saya di ajak oleh Kakak-kakak tingkat di sekolah saya yakni Akhi Ridho dan Akhi Sadi untuk masuk ke dalam Organisasi Rohis(Kerohanian Islam Sekolah).Pada awalnya saya cukup semangat dalam mengikuti kegiatan Rohis itu, namun lama-kelamaan semangat itu memudar karena saya harus mencapai mimpi saya yakni menjadi Pemuncak di SMA tersebut.
Saya akui bahwa saya sebenarnya Kader ‘Ilmi,karena dari kelas 1 sampai kelas 2 SMA saya fokus belajar dan mengurus Rohis hanya setengah hati.Dan Alhamdulilah, mimpi saya tercapai yakni pada semester 1 Kelas 2 saya berhasil menjadi pemuncak di SMA tersebut.Sebenarnya saya sangat sedih sekali sekarang karena dengan banyaknya amanah yang saya pegang, kemampuan akademik saya menurun.Dan orangtua saya pun sempat marah kepada saya.
Harapan saya, di tahun yang akan datang amanah saya di Kampus bisa berkurang.Dan saya bisa lebih fokus menjadi Kader ‘Ilmi.
Dan saya memperoleh semangat lagi untuk aktif di Rohis SMA tersebut ketika Kakak Tingkat saya bisa masuk di Universitas Terkemuka di Indonesia yakni UPI Bandung. Mereka bercerita bahwa di setiap sekolah umum di bandung itu sudah mempunyai Rohis. Akhirnya saya dan rekan saya Herman bangkit kembali dari kefuturan dengan jalan menguasai siyasih di sekolah.
Semua anak Rohis di Sekolah saya sepakat bahwa rekan saya Hermansyah harus menjadi Ketua OSIS di SMA N 1 Benai walaupun wakilnya dari kalangan perempuan. Akhirnya setelah kader Rohis kami naik,Rohis kami mendapatkan tempat yang terhormat di sekolah tersebut yakni kami berhasil membentuk Tim Safari Ramadhan ke desa-desa dengan di komandoi oleh Seksi Ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang mana saya dipercaya menjadi koordinatornya. Dan yang membuat ROHIS kami dipandang Rohis percontohan di kuansing karena di Kuansing Rohis yang pertama kali berdiri dan disetujui oleh Kepala Sekolahnya adalag ROHIS SMA N 1 Benai.Dan dalam masa kepengurusan kami(ketika itu saya kelas 3 IPA 1) kami berhasil mengadakan silaturrahim ke Rohis yang baru dibentuk yakni ROHIS SMA N 2 Benai.
Dan yang membuat sekolah saya terkagum-kagum yakni Pemuncak 1,Pemuncak 2 dan Pemuncak 3 pada kelas 3 semester 1 adalah para Jundullah yakni Kader ROHIS SMA N 1 Benai.Harapan saya kepada FKII agar mendata kader-kadernya yang berprestasi di SMA dan sekarang anjlok prestasinya gara-gara kebanyakan amanah di Kampus agar memberikan kepada mereka lagi waktu yang banyak bagi mereka untuk bisa berprestasi lagi. Dan kita buktikan pad kampus ini bahwa kader-kader FKII harus menjadi pemuncak di kampus UIN SUSKA.
Dan saya mulai merasakan hidayah Allah itu muncul di hatiku ketika saya mulai asik mengkaji buku-buku yang berkaitan dengan Islam.Ketika itu abang saya pulang kampung dari kuliahnya yakni di IPB Bogor,rupanya abang saya banyak membawa majalah ISLAM Sabili dan buku-buku yang berkaitan dengan ISLAM.Saya pun mulai jatuh hati dengan Islam dengan memperoleh pencerahan dari Majalah Sabili.
Sampai sekarang,saking jatuh cinta sama SABILI,saya masih terus update baca Sabilinya.Setelah itu saya semakin semangat datang Liqo’nya, dan Murobbi saya waktu SMA juga orang yang luar biasa karena dia juga ahli kungfu.Dan itu membuat saya terkagum pada pribadinya,dan akhlaknya yang luar biasa dan santun kepada Binaanya. Mudah-mudahan Murobbi saya selalu diberikan kekuatan Allah dalam membimbing generasi Muda di SMA N 1 Benai tersebut.
Harapan saya kepada FKII agar mengaktifkan kembali kegiatan beladirinya karena Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah(Alias Pandu AZZAM).Ketika saya sudah masuk ke dunia Ikhwan ini baru saya sadar bahwa menjadi Da’i Profesional itu harus dimulai dari diri pribadi kita masing-masing. Mungkin waktu SMP,ketika kultum saya mengatakan apa yang tidak saya kerjakan sehingga informasinya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.Dan Alhamdulilah,ketika saya masuk ke dunia Putih ini saya wajib mengisi daftar amalan yaumiyah diri kita,jadi kita bisa menjadi Da’i Profesional yakni mengerjakan apa yang kita ucapkan ketika ceramah.
Dan di Dunia Putih ini saya berhasil menemukan dakwah yang begitu mengasikkan karena kita langsung berhadapan face to face dengan objek dakwah kita,sehingga bisa tersampaikan dengan baik(Metode Liqo”/Mentoring).Sangat berbeda dengan kultum/ceramah,yang mana bisa saja ketika kita berbicara masih banyak orang yang bercerita dan tidak mendengarkan ceramah kita.
Mudah-mudahan dengan adanya mentoring di setiap elemen kampus UIN SUSKA bisa melahirkan orang-orang yang tersibgah dengan celupan Allah swt.Akhirnya, aku akan menuliskan sebait puisi:
“Saat Tarbiyah Menyinariku”
Hari ini ku sangat bahagia
Ketika Tarbiyah menyinariku
Dahulu kegelapan syirik selalu menutupi mata hatiku
Dahulu kegelapan maksiat selalu menghantuiku
Ya Allah.....
Terima kasih Ya Rabb...
Engkau telah mengenalkan aku dengan Tarbiyah
Engkau telah memberikan hidayah-Mu lewat proses Membaca ayat-ayatmu
Saat Tarbiyah menyinariku....
Aku menjadi bangga menjadi seorang muslim...
Aku menjadi terobsesi memimpin negeri ini....
Aku menjadi orang-orang yang berjiwa besar...
Saat Tarbiyah menyinariku...
Aku mempunyai banyak saudara yang sehati denganku...
Aku menjadi orang yang selalu senang setiap detik.....
Karena Tarbiyah bukanlah segala-galanya..
Tapi segala sesuatu berasal dari Tarbiyah...
Ya Rabb...
Istiqomahkanlah aku di jalan dakwah yang panjang ini..
Ya Rabb....
Sinarilah pribadiku dengan cahaya Tarbiyah....
Demikianlah karya tulis saya tentang “Ketika Mentoring Mengubah Hidupku”.Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.Dan semoga buku yang akan diterbitkan ini bisa menggugah para manusia yang tersesat untuk kembali kepada jalan kebenaran.Amin....! Dan Mohon Maaf atas segala kesalahan jika terdapat dalam kepenulisan ini.
“Wassala mualaikum wara matullaahiwabarakatu”
[ Read More ]













