[ Read More ]
Buku FKII Berkarya (Saat mentari Mulai Menyinariku)
buku ini berisi Kumpulan Kisah pengalaman awal tarbiyah Kader2 FKII Asy-Syams.........
Buku Tahunan FKII
buku ini berisi dokumentasi kepengurusan FKII selama setahun kepengurusan.
Bidang kemuslimahan Forum Kajian Islam Insetif (Fkii) Asy-Syams UIN SUSKA RIAU bekerja sama dengan bidang kemuslimahan DCC SMART Fakultas Dakwah Ilmu Komunikasi (FDIK) menggelar jaulah an-nisa dalam menyambut hari Ibu, di teater FDIK, Jum’at (16/8/2011) acara tersebut mengadirkan pemateri Yuli Nancy. Menurut Neneng, ketua keputrian Fkii Asy-Syams UIN Suska, acara tersebut selain untuk menyambut hari Ibu, juga sebagai mempererat silaturrahmi sesama muslimah se-UIN.” Tujuan diadakan jaulah ini adalah untuk mempererat selaturrahmi dan juga untuk mengingatkan betapa besarnya jasa-jasa seorang Ibu, bahwa seorang Ibu memiliki peran besar yang tidak akan pernah bisa untuk digantikan. Ujarnya. “ Untuk mengingat jasa Ibu tidak hanya di hari-hari tertentu saja, tetapi setiap hari itu adalah hari Ibu.” Tambah Ani, ketua Keputrian DCC SMART. Acara yang berlangsung sekitar dua jam tersebut dihadiri hampir 130 peserta dari berbagai fakultas. Acara kemudian ditutup dengan penampilan Nasyid Salsabila dan salam-salaman.
Karya Ilham Fauzi
Negeri Para Nabi. Bumi Al-Aqsa. 1420 H.
Dzulhijjah menuju penghujung. Menutup selaksa
episode nan lelah menggores. Berselang hari, Muharam kembali datang.
Melantunkan gema lembut. Menggantikan sisiran kisah-kisah dibulan-bulan
sebelumnya. Saat pedih dan bahagia memberi warna. Memberi harap dan tekad baru
agar dihadirkan kisah dari lantunan do’a. Semoga percik-percik kebaikan tak
pernah surut menghampiri.
Namun bagaimana dengan sebuah negeri yang berada di
pesisir laut tengah. Yang diserpih kedinginan sejak Zulkaidah memasuki. Tak ada
aroma gurun yang mempertajam dahaga. Tak ada tarian pasir mempertontokan
badainya yang berputar-putar mengerikan. Dipenghujung tahun, hawa panas tak
begitu hebat menjalar. Takluk karena
kedinginan begitu berkuasa merasuk ke sumsum tulang. Tapi tetap saja
daun-daun kurma dan zaitun tak segar menghijau. Mereka tertunduk tak semangat.
Bukan hanya karena dingin bercokol di titik 25 derajat celcius. Namun karena sebuah
luka. Luka yang tak berhenti mencecerkan darah. Luka di tanah Al-Quds.
-Amir-
Aku memimpikan itu. Ketika kami melewati matahari
pertama di bulan Muharam tanpa mendengar
bunyi-bunyi peluru yang hilir mudik mencari alamat. Namun semuanya mesti
terus terjadi. Peluru itu akan terus
berdansa memuntahkan timah panas. Semua tak akan pernah berhenti. Sebab
hingga aku sepuluh tahun, tak ada sedikitpun jeda untuk tanah ini didiamkan
dari desing-desing yang menyesakkan dada.
Semua tak kami kehendaki. Walau begitu, di
penghujung Hijiriah ini aku, abi, umi, dan Afuf, adikku, akan mengadakan pesta
kecil-kecilan seusai subuh. Di sini tak akan ada peringatan besar-besaran yang
menandakan Zulhijjah telah berlalu. Sebab penjajah tanah ini tak akan
membiarkan semuanya berlalu dengan aman. Mereka akan menambah luka lagi.
Abi membangunkanku dan Afuf seperti biasa. Kami sholat
subuh berjamaah. Abi akan larut sebentar dalam zikir al-matsurat pagi.
Sementara aku dan Afuf bergeming nakal. Selesai itu, abi membukakan pintu dan kami
mulai “berpesta”. Menunggu fajar Muharam menyemburat.
“Tahun baru datang lagi Abiiii!” aku meneriakkan itu
yang juga disusul oleh Afuf dengan terpatah-patah. Ia baru berumur dua tahun.
Umi akan sibuk menyajikan makanan yang lain dari biasa. Tahun lalu umi membuat daging panggang flatbreads1. Untuk sekarang aku meminta manakeesh.2.
Kami memasaknya di luar dan menggotong barang-barang
yang diperlukan. Abi menyalakan api unggun. Kecil saja. Sebetulnya suasana
gelap adalah target yang mengempukkan bagi tentara yahudi melenyapkan kami.
Serangan-serangan biadab itu biasanya dilancarkan ketika gelap masih mengepul.
Yang paling khawatir adalah abi. Hanya untuk satu kali ini saja abi mengizinkan.
“Aku bukan anak kecil lagi Abi. Aku sudah menjadi
abang sekarang. Aku tak takut berhadapan
dengan zionis-zionis itu.” sebuah protesku pada abi yang pernah aku lontarkan.
Abi hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutku. Tak mengatakan sepatah katapun.
Dingin masih berkuasa dengan tahtanya. Umi menggelar
tikar pandan di bawah pohon kurma yang daunnya sangat lebat. Abi menenteng
kompor mini. Dibantu Afuf dibelakangnya. Mengangkut bahan-bahan untuk manakeesh. Seperti minyak zaitun, oregano3, bawang,
rempah-rempah dan saus panas. Selain itu juga diselingi dengan yogurt sederhana
buatan umi dan chai 4 hangat.
Aku menceritakan segala keinginan yang harus terwujud tahun ini. Aku harus
hafal lima juz lagi. Mempelajari AK-47. Afuf juga bercerita tentang
keinginannya. Kami hanyut dalam tawa hingga nanti pagi benar-benar sempurna
dalam kilauan terang.
“Bang Amir! Gelas untuk chai masih didalam. Tolong ambilkan.” Afuf menyela dengan suara
cadelnya.
“Baiklah.” ujarku sambil melangkah ke dapur yang
agak jauh ke belakang.
Aku kembali dari dapur dengan membawa teko berisi
teh hangat dengan hati-hati. Keseimbanganku menggoyah ketika dentuman keras
menggetarkan tanah. Aku terpaku namun tak perlu lagi mengeluarkan tanya.
Roket-roket keji itu mengunjungi rumahku. Tepatnya menghantam pekarangan rumah
dimana abi, umi, dan Afuf tengah berada. Dengan hentakan kaki yang bergerak
kilat, aku merangsek ke depan.
Abi, umi dan Afuf terpental dalam leleran darah yang
membanjir. Sedangkan deru-deru pesawat yahudi mulai menjauh. Aku mulai
terisak-isak. Terduduk sambil memeluk lutut. Aku tak sanggup mendekati mereka.
Sungguh tak sanggup. Aku hanya menatapi minyak zaitun yang dibawa Afuf
tertumpah. Daging-daging yang akan dipanggang umi terpental. Kompor mini abi
tersungkur, sujud di pasir. Aku mulai menangis. Semakin mengeras. Muharam di
sepuluh tahunku menancapkan luka teramat perih.
***
Gaza
dalam merah. 1432 H.
-Nur Putih-
Atas perintah Tuhanku, aku melesat menuju bumi.
Seperti biasa, mencatat apa yang diperbuat manusia di tanah milik pencipta
mereka. Namun tak hanya itu, aku datang untuk menjemput kalian. Mengambil ruh
dalam dua keadaan. Keadaan sebaik-baik rupa. Ditangisi banyak orang. Disholati
dalam banyak shaf. Bahkan terus dikenang. Atau bisa jadi ketika kalian dalam
keadaan seburuk-buruk rupa. Menggumpal dalam beku darah. Mengonggok dalam
tumpukan daging yang mengaroma busuk. Atau dalam keadaan yang sangat
menyedihkan. Hina dalam pandangan
manusia bahkan mungkin juga hina dalam pandangan Rabb-ku.
Gaza meremang pekat. Aku tiba di tanah kematian ini.
Tanah seluas 360 km2. Kembali aku bertasbih memuja Rabb-ku. Tempat
ini benar-benar gelap bagi kalian ukuran manusia. Ritme kehidupannya tak
terlihat menghembuskan nafas. Sama halnya ketika aku melintas di Tepi Barat. Bahkan
Baitul Maqdis yang mampu menampung hingga dua ratusribu umat, sunyi tak
bernyawa. Mendiam. Menyatu dalam bekuan dingin.
-Nur Putih-
Mereka memanggilnya dengan Amir. Aku mencatat ia
yang selalu terjaga dalam sujud panjang disepertiga malam terakhir. Melantunkan
hafalannya yang sempurna 30 juz. Wajahnya kilat bercahaya. Tak salah Tuhanku
mengatakan bahwa manusia adalah sebaik-baik mahkluk. Tapi hanya manusia-manusia
pilihan-Nya.
“Amir, bagaimana kalau kita melakukan pengungsian
dulu ke Tepi Barat. Di sana kita bisa menyatukan semua kekuatan yang berada di
Betlehem, Hebron, Ramallah juga di Jerusalem. Setelah itu kita bisa kembali ke
sini merebut Gaza. Bukankah Allah akan terus bersama kita.”
Wajah yang masih muda itu menatap ke wajah yang baru
saja berbicara. Kemudian mengulas senyum. Dengan tenang ia beujar. “Gaza
memanglah tanah kering yang tak punya kekayaan apa-apa. Meski begitu, ini
adalah tanah kita. Kita tak boleh meninggalkannya sedetikpun dan membiarkan
mereka mendudukinya. Kekuatan kita akan tetap di sini. Sementara di Tepi Barat
biarlah mujahid di sana mengatur strategi.”
Wajah itu tertunduk. Tak lama, pertemuan sembilan
orang itu berakhir. Mereka meninggalkan
ruang rahasia tempat mereka biasa mengatur strategi. Siasat perang selanjutnya
telah diatur.
Sekarang tugasku di sini.
Aku akan berhadapan dalam sepenggal cerita yang bertaruh nyawa. Atas perintah
Rabb-ku, kali ini aku menjelajahi tanah Al-Quds.
-Nur Putih-
Mereka yang mengajarkan
kami perang. Semenjak mereka merenggut abi, umi dan Afuf, aku juga tak akan
berhenti memerangi kalian. Tidakkah pernah kalian rasa, jika dengan tiba-tiba
kalian kehilangan orang yang kalian cinta wahai yahudi terkutuk? Apa nurani
kalian demikian tertutupnya sampai-sampai kalian hanya memikirkan kepentingan
kekuasaan kalian saja. Takkah terpikir, Tuhan menghadirkan tanah ini bukan
untuk kalian semuanya. Tuhan juga memberikannya untuk kami. Takkah terpikir
yahudi? Takkah?
Ia sesegukan mengucapkan kata-kata itu. Hanya sebentar.
Kemudian ia menulis beberapa menit. Kulihat ia meneteskan air mata. Degup
jantungnya berdetak cepat. Perlahan tetes peluh muncul dipelipis dahinya. Ia
menghembuskan nafas dan menyandarkan tubuh.
Walau ruangan itu tidak besar tapi isinya padat. Di
sana terdapat banyak kitab-kitab. Di dinding ditempel peta Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Beberapa senjata dan peralatan medis tergeletak begitu saja. Aku pastikan
ruangan ini merangkap sebagai ruang pribadi sang Amir.
-Nur Putih-
Mereka kembali melakukan misi. Menyusuri setapak
jalan yang merona digelap dini hari. Langkah-langkah itu berderap melintasi
semak belukar. Tembok-tembok yang dibangun yahudi sepanjang daratan agak
menyulitkan. Namun mereka selalu punya cara. Posko-posko yahudi yang berada
disepanjang jalur gaza harus dihancurkan. Mereka akan terus membunuh
warga-warga Gaza yang lewat dengan semaunya.
AK-47, roket anti tank RPG, ranjau, dan beberapa
jenis roket lokal menunggu untuk dimainkan. Bersiap melawan tank Merkava,
pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih”
buatan Amerika Serikat.
Meski dengan senjata
itu cukup menyulitkan kalian melawan Israel, tapi kekuatan Rabb-ku akan selalu
mengiringi kalian. Aku siaga manusia putih. Aku siap kapanpun membawa kalian.
Dengan senang hati. Akan kuhantar lansung menuju firdaus-Nya atas izin
Tuhan-ku.
-Nur Putih-
Aku kembali. Di ruangan sempit dan kecil milik Amir.
Tempat ia menghabiskan malam-malamnya dalam sujud panjang. Diiringi luruhan air
mata yang membasahi sajadah.
Lengang. Mereka masih dalam perang yang menitikkan
darah. Kulihat kertas yang pernah ia tulis. Aku menyentuhnya.
Menuju
Muharam baru. Tahun harapan.
Jika di tanah
ini air tak lagi bisa menyelamatkan segalanya, biarlah. Jika di tanah ini angin
juga tak lagi datang membawa kabar pertolongan, juga biarlah. Bahkan sampai
tanah ini juga tak mengizinkan lagi untuk hidup di sini, tetap biarkanlah. Bukankah
semuanya masih bisa terus dilanjutkan? Meski mereka tak lagi sahabat kita,
meski mereka mengabaikan kita, meski mereka menzalimi kita, dan meski mereka
menistakan kita.
Kita tak perlu
khawatir apalagi takut. Sebab bukankah di sini kita masih berdiri membentuk
lingkaran. Selama rantainya masih erat, semuanya akan baik-baik saja. Di sini
masihlah ada pemuda-pemudan-Nya yang teguh memegang janji. Pemuda-pemuda yang
tak akan mundur ketika tanah-Nya digumuli kenistaan. Pemuda yang tak akan berdiam
diri jika saudaranya dibinasakan.
Namun jika
akhirnya tetap ada yang mengkhianati kita, kita juga tak perlu takut. Sebab
kita akan menunjukkan betapa dahsyat kekuatan kita. Semuanya selama kita tetap
berpegang erat dalam satu jalan. Satu jalan menuju kemenangan Palestina.
Sebuah pesan. Pesan kematian untuk menemui Rabb-ku.
Tanah Al-Quds takkan pernah berhenti mengurai cerita merah. Semoga jundi-jundi
kecil Allah membacanya dan meneruskan perjuangan sang Amir.
-Nur Putih-
Mereka masih belum kembali. Aku bersiap meninggalkan
tempat ini. Menemui Rabb-ku. Aku belum ditugaskan untuk membawa mereka.
Pintu berderit. Nafasku tertahan. Hanya Amir yang
akan memasuki ruangan ini sendirian. Dan dia bukan Amir. Seseorang yang
mengusulkan agar semua kekuatan dipindah ke Tepi Barat. Dengan senyum licik
mengeluarkan barang digenggamannya. Peledak waktu kiriman Amerika. Ia
menyelipkan diantara kitab-kitab. Tak sampai satu menit ia keluar. Semuanya
telah ia pastikan dengan baik. Ia menjamin satu jam lagi mereka akan kembali.
Setelah itu….
Pintu kembali tertutup.
Kertas yang ditulis Amir tertiup dan menyungkur dihadapan tanah.
Jalur GaSa, 28 November
2011
Adapun acara penutupan muharam fair Fkii
dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 2011 dengan seminar motivasi yang bertema
“Melukis muharam seindah pelangi(live your dream) yang menghadirkan Mr. Wira
Putra Ramli, S.TP., CH (Trainer profsional alumni UNPAD, Owner dan direktur
smart companya. Acara bertempat di rektorat lantai lima yang dihadiri lebih
kurang dari 200 peserta. Sekitar jam 9.00 acara dimulai. Dipertengahan acara
menampilkan perfomence dari perserta seperti penampilan nasyid dan pembacaan
cerpen islami. Kemudian baru memasuki acara inti seminar motivasi yang
dibawakan oleh trainer yang mampu menghipnosis peserta. Jam 12.00 adalah
saat-saat yang mendebarkan bagi peserta yang telah mengikuti serangkain lomba
muharam fair karena setiap pemenang lomba akan diumumkan. Dengan senyum kemenangan satu persatu peserta namanya yang
dipanggil oleh Mc maju kedepan.” Saya berharap dengan adanya rangkaian acara
muharam fair ini mahasiswa bisa mengetahui eksistensi Fkii di kampus dan bisa
mengambil banyak ‘itibar, untuk kedepannya saya juga berharap Fkii bisa
melaksanakan kerjasama dengan UKK/ UKM lain dalam memperingati hari-hari besar
islam sehingga tujuan kita bersama tercapai mewujudkan kampus Islam Madani.”
Tutur skhoiri sebagai ketua panitia muharam fair Fkii.
Hatiku hancur mendengar semua
penjelasan pak Yudi, pengacara papa. Apa maksud semua ini. Aku sungguh tidak
mengerti.
“Rana, kamu harus bisa menerima semua
ini, walaupun cuma satu ayah dia tetaplah adikmu Rana,” ujar pak Yudi berusaha
memberi penjelasan padaku.
Cukup sudah aku kehilangan kedua
orangtuaku di usiaku yang semuda ini.
Apakah bebanku harus bertambah dengan mengasuh dia? Tatapan mata polos
tak bersalah itu menatapku penuh harap.
“Rana, kenalkan...ini Aisya, anak papamu
dengan tante Ratih,” lanjut pak Yudi.
Aisya, gadis itu menatapku polos.
Sejak tadi angannya memainkan ujung kerudungnya. Umurnya sekitar 15 tahunan,
sejak tadi dia tampak ketakutan. Akhirnya aku luluh juga, tatapan matanya mampu
mencairkan hatiku.
“Ya sudah, aku akan berusaha
menjaganya,” ujarku akhirnya.
“Kalau begitu bapak pergi dulu, besok
kamu bisa langsung ke kantor papamu”.
Aku mengangguk, menatap pilu kepergian
pak Yudi. Sekarang tinggal aku dan gadis itu. Dia menatapku takut-takut.
Kuhempaskan badanku di sofa yang ada di ruang tamu rumah ini. Sungguh, aku syok
dengan kenyataan ini. Aisya masih berdiri di sebelahku, tangannya masih
memainkan ujung kerudungnya.
“Kamu bisa berhenti memainkan ujung
kerudungmu itu!” bentakku.
Dia tampak terkejut dan langsung menghentikan
gerakannya. Dia semakin terlihat ketakutan.
“Baik, kamar kamu di sana,” tunjukku pada sebuah kamar
yang ada tepat di bawah tangga,”Kamu bisa beristirahat di sana”
Dia mengangguk dan dengan segera
berjalan menuju kamar itu. Aku sengaja memberikan kamar itu untuknya, biar dia
tidak terlalu ngelunjak di sini. Hatiku benar-benar sakit, tidak kusangka papa
bermain di belakang mama. Sungguh hebat, 15 tahun usia gadis itu, sampai akhir
hayatnya pun mama tidak mengetahui kehadirannya. Aku sungguh tidak bisa
memaafkan hal ini. Tidak terasa air mataku menetes, mengapa cobaan ini terasa
begitu berat bagiku?
***
Aku terdiam di meja makan, begitupun
dengan Aisya. Dia masih tampak takut-takut menggigit roti di tangannya.
“Ini handphone untukmu,” ujarku
dingin,”Aku akan mengantarmu ke sekolah pagi ini, nanti kalau kau sudah mau
pulang kau bisa menghubungiku,” lanjutku.
Aisya mengangguk, tangannya bergetar
menerima barang pemberianku.
Aku diam sepanjang perjalanan,
begitupun dengan Aisya. Dia hanya menunduk, sementara aku fokus pada jalan. Aku
sungguh tak berminat untuk mengobrol dengannya.
Akhirnya sampai juga di depan pintu
gerbang sekolahnya. Aku diam tak bergeming.
“Makasih kak...Sya senang kakak mau
mengantar Sya ke sekolah,” ujarnya lirih dan berlalu dari hadapanku.
Sepanjang perjalanan ke kantor aku
termenung mengingat ucapannya tadi. ‘Kakak’, sebuah kata yang aneh menurutku.
Bertahun-tahun aku hidup sebagai anak tunggal dan sekarang aku menjadi kakak,
jujur aku masih belum mampu menerima semua ini.
Pak Yudi menyambutku dengan sumringah.
Dengan sigap dia langsung memperkenalkanku sebagai pengganti papa kepada semua
karyawan. Hampir saja titik-titik bening meluncur dari pelupuk mataku, untung
saja aku masih bisa menahannya. Sekarang aku benar-benar merasa sendiri.
***
Aku tidak tahu apakah papa bangga
padaku atau tidak, sekarang aku terdiam di dalam kantornya. Duduk di kursi yang
biasa didudukinya. Memang masih asing bagiku, entah sampai kapan aku akan bisa
bertahan.
Lamunanku tentang papa terpecah oleh
getaran handphone di saku blazerku. Segera kuambil, sebuah pesan. Ternyata dari
gadis itu, dia sudah mau pulang. Kulirik jam di pergelangan tanganku, sebentar
lagi memang istirahat siang. Kutarik napas panjang, semoga aku bisa mengahadapi
semua ini.
***
Kuperhatikan setiap anak yang keluar
dari pintu gerbang itu. Belum kulihat batang hidung Aisya. Kesabaranku hampir
habis, tadi dia bilang akan pulang. Sudah sepuluh menit aku menunggu di sini,
tampaknya dia mau mempermainkanku. Akhirnya kuputuskan untuk pergi saja dari
tempat itu, sekedar memberi pelajaran untuk gadis yang tidak tahu berterima
kasih itu.
Hampir gelap aku baru menginjakkan
kaki di rumah. Sepi, apakah Aisya belum pulang? Rasa khawatir hinggap di hatiku. Walaupun dia
saudara tiriku, tapi dia tetaplah tanggung jawabku.
Kubuka pintu kamarnya. Kosong,
keringat dingin mulai kurasakan. Kemana dia? Apakah dia belum pulang? Aku mulai
kebingungan.
Akhirnya kuputuskan untuk mencarinya.
Setengah berlari aku masuk ke dalam mobil. Tapi, kemana aku harus mencarinya?
Tidak satupun nomor temannya yang kupunya. Rasa kesal itu akhirnya sampai ke
ubun-ubunku. Mengapa dia harus bersamaku? Sekarang dia menjadi masalah bagiku.
Akhirnya kuputuskan untuk mencari di
sekitar sekolahannya. Kupacu mobil dengan kecepatan tinggi. Aku lumayan
khawatir, karena kurasa dia belum terlalu mengenal daerah ini.
Kuperhatikan setiap detil yang kulalui
menjelang ke sekolah Aisya. Tapi, wajahnya belum juga kutemukan. Sekarang aku
tepat berhenti di depan sekolahnya. Kulihat sekeliling, bola mataku
berputar-putar mencari sosoknya.
Lama juga aku memperhatikan tempat
ini, hingga akhirnya mataku tertumbuk pada sebuah halte yang berada tidak jauh
dari pintu gerbang sekolah. Kulihat di sana sesosok gadis berjilbab bertopang
dagu, ada gurat kecemasan di wajahnya.
Setengah berlari kuhampiri dia...
“Aisya!” Panggilku setengah berteriak.
Mata beningnya beralih menatapku.
Entah kekuatan apa yang membuatnya berlari dan langsung memelukku. Kontan saja
aku terkejut dan berusaha melepasakn pelukannya.
“Kau kemana saja?” Tanyaku setengah
membentak.
Dia tampak ketakutan, kulihat selaksa
bening yang mengalir dari pelupuk matanya.
Kuatur napasaku, kocoba untuk bertanya
dengan lebih lembut.
“Dari tadi siang aku menunggumu di
sini”
Dia masih tampak ketakutan. Tapi,
bibir mungil itu akhirnya mengeluarkan suara juga.
“Ma...Maaf kak, tadi Sya dipanggil
kepala sekolah dulu jadi agak terlambat keluarnya, sebenarnya tadi siang Sya
sudah berusa memanggil kakak, tapi mobil kakak pergi begitu cepat,” ujarnya
menjelaskan dengan suara serak.
Aku termenung. Hening...jadi dari tadi
siang dia menungguku di sini. Kuperhatikan wajahnya, pucat. Kurasa dia belum
makan apa-apa, terlihat gurat kelelahan di sana. Hatiku yang sempat kesal
perlahan mencair melihatnya.
Lama aku menatapnya hingga kemudian
secara refleks aku memeluknya. Dia terisak dalam pelukanku. Kurasakan
kehangatan di sini.
“Seharusnya tadi kau menelepon
kakak...,” ujarku akhirnya.
Entah kenapa aku mulai suka dengan
kata-kata itu. Panggilan kakak, aku mulai merasakan kedamaian dengannya.
Di tengah isakannya dia berkata,”Sya
takut kak, takut kalau kakak marah. Makanya Sya tidak berani menghubungi kakak.
Sya bingung, akhirnya sya hanya duduk saja di halte itu”
Oh adikku...maafkanlah kakakmu ini,
ujarku dalam hati. Es itu perlahan-lahan mencair. Kepolosan wajah Aisya
akhirnya mampu meluluhkan hatiku.
Tak terasa azan maghrib berkumandang
saat kami masih terdiam dalam keheningan di depan sekolah Aisya.
Allahuakbar...Allahuakbar.
Kubimbing dia ke mobil.
“Kau pasti belum makan dari tadi siang.”
Dia menggeleng.
“Kita sholat dulu ya, setelah itu baru
makan malam,” ujarku.
Dia mengangguk polos. Oh adikku...
***
Setengah terisak aku bermunajat di
sebuah mushola. Tidak jauh dari sekolah Aisya. Di sampingku, Aisya pun tampak
kusyu’ berdo’a. Kurasakan cahaya-Nya di sela-sela kehidupanku sekarang. Teringat
aku akan kelalaian yang telah kulakukan dahulu, mungkin cobaan yang datang
padaku adalah sebuah teguran dari-Nya. Aku berjanji akan mulai memperbaiki diri
mulai saat ini.
Kucoba untuk mengurai senyum pada
Aisya. Awalnya memang terasa canggung, tapi senyum balasan yang tulus darinya
membuatku yakin, aku mulai menyukainya.
“Sekarang kita makan ya! Kau pasti
lapar,” ujarku
Aisya mengangguk. Raut ketakutan
perlahan hilang dari wajahnya.
Kami masuk ke sebuah restoran. Kupesan
makanan terenak yang ada di sini untuk membayar kelalaianku siang tadi.
Aisya tampak malu-malu memakan makanan
yang sudah tersaji di hadapan kami.
“Kenapa tidak dimakan?” Tanyaku berusaha seramah
mungkin.
Dia tersenyum kecil.
Tangannya mulai bergerak mengambil
setiap makanan yang ada. Kutatap matanya, ada tatapan ketulusan di sana.
Perlahan kupegang tangan Aisya.
“Maafkan kakak ya!” Ujarku.
Dia tampak termenung melihatku.
“Maafkan kakak, mulai besok kakak
janji akan menunggu sampai kau benar-benar keluar dari sekolah,” lanjutku.
Aisya terisak kembali.
“Kak...terima kasih,” kata-kata itu begitu indah
terdengar.
Aku tersenyum.
“Terima kasih karena sudah mau menjadi
kakak untuk Sya, akhirnya Sya tidak sendiri lagi.”
Kupeluk dia dengan tulus.
“Iya dik, terima kasih juga karena
sudah mau menjadi adik kakak yang manis,” ujarku.
Akhirnya senyum lebar tersungging dari
bibirnya. Terima kasih Tuhan karena sudah memberikan kado terindah untukku.
“Anak-anak, ini Kak Cahaya yang akan
mengajarkan kalian untuk sementara.” Umi
Aida guru mengaji kami mengenalkan wajahyang belum pernah kutemui di Desaku.
Perempuan itu tersenyum. Dari kedua
bola matanya menyuluhkan teduh. Nur Cahaya seseorang yang hanya kukenal dalam
puluhan hari. Seorang Mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di Provinsiku.
Keberadaannya di Desaku adalah untuk melaksnakan KKN.Kak Cahaya, begitu aku
memanggilnya. Kehadirannya membawa segelas mimpi untuk mengisi ruang jiwaku
yang hampa.
Aku Fatimah, gadis kecil yang
menyeduh serapah dan melumat maki yang selalu keluar dari seorang lelaki paroh
baya yang berstatus Ayah kandungku. Jika ada yang mengatakan ada Ayah yang
membenci anak kandungnya sendiri, maka akulah salah satunya. Ayah
membenciku, aku bisa melihat kebencian
itu dari tatapan ke dua bolo matanya. Ia begitu jijik denganku hanya karena aku
gadis pincang yang tak pernah ia inginkan lahir ke dunia ini, sangat berbeda
dengan kedua orang Kakakku yang hampir sempurna. Sebagai orang cukup terpandang
di Desaku tentu Ayah sangat malu memilki anak sepertiku. Hanya peri yang
kupanggil ibu yang mengepakkan sayapnya untuk melidungiku, namun peri itu
terbang ke langit saat seragam putih dongker masih membungkus tubuhku. Dan aku
tertimbun oleh pedih.
“Kau itu anak tidak berguna.”
Kembali kuterima makian Ayah saat aku ingin
melihatkan ulanganku yang mendapatkan 90 kepadanya, tapi baru sebaris kalimatku
bergetar ia terlebih dahulu menyemburku dengan sumpah serapah seperti biasa
yang ia lakukan kapadaku. Membuat perih di hatiku menggumpal. Namun aku ingat
nasehat-nasehat Ibu.
“Fatimah harus buat Ayah bangga
memiliki anak seperti Fatimah, Ibu yakin ada ruang cinta dihati Ayah untuk
Fatimah, hanya saja ruang itu masih kelam Nak.” Nasehat Ibu setiap kali aku
mengurai air mata setelah menadapatkan makian dari Ayah. Dan nasehat yang sama
juga kudapatkan dari wanita bermata teduh itu.
“Kakak yakin adik pasti bisa! Ia
menguatkanku saat aku hampir rapuh.
Nur Cahaya ia menjelma menjadi peri yang mengepakkan sayapnya untuk
melidungiku sama seperti yang pernah Ibu lakukan untukku. Hanya dia lah
satu-satunya orang yang menggap kehadiranku ada di dunia ini setelah Ibu pergi
ke langit. Sedangkan Kakakku. Jannah dan Miftah entahlah tak pernah kutemukan
cinta dimata mereka seperti aku yang melihat pancaran cinta di mata Kak cahaya.
“Sukses itu milik semua orang dik.”
Ia kembali menguatkanku saat aku mulai meragukan kemampuanku untuk meraih
mimpiku karena aku hanya lah seorang gadis pincang.
“kakak yakin suatu hari nanti Kakak
akan melihat kesusksesan Fatimah.” Ia meyakinkanku dengan sorot mata teduh yang
membuat aku nyaman berada di sampingnya.
Dan nasehatnyalah yang kemudian yang
membawa aku lulus di salah satu Universitas Negeri di Propinsiku dengan beasiswa
dan aku mulai mampu menyentuh hati Ayah. Membuka kelam tempat ruang cintaku
tersimpan saat kubawa selembar bahagia untuknya.
“Maafkan Ayah Nak.” Ia merangkulku
ke dalam pelukannya untuk pertama kalinya disepanjang napasku dengan isak sesal
yang bergemuruh. Membuat sesak diujung mataku tak mampu kubendung. Setelah
kurasakan cinta Ayah mengalir segera ku pencet no hp Kak cahaya, tak sabar
rasanya aku membagikan sejuta bahagiaku untuknya dengan rindu yang membahana
karena sudah hampir sebulan tidak ada komunikasi diantara kami karena aku takut
menggagu konsentrasinya yang sedang menyusun skripsi.
“Assalamu’alaikum.” Jawab suara di
seberang sana.
“Maaf Pak, bisa bicara dengan Kak
Cahya?” Tanyaku saat mendengarkan suara laki-laki yang menjawab teleponku.
Hening.
“Maaf Pak, bisa bicara dengan Kak
Cahaya?” Tanyaku lagi.
“Cahaya telah pergi.” Jawab suara
itu mendung.
Aku diam seperti ada ribuan duri
yang menusuk-nusuk hatiku saat mendengarkan uraian cerita tentang kecelakaan
yang menimpa Kak Cahaya dua minggu yang lalu. Nyawanya tidak tertolong.
Kulihat mentari yang mulai
menyembunyikan wajah bulatnya di antara awan-awan jingga yang berserakan di
kaki langit. Kak cahaya telah berada di langit sana menemani Ibu ketika belum
sempat kulihatkan separuh mimpi telah kurangkul. Tak kan pernah kutemui lagi
mata teduhnya yang membuat aku nyaman berada di sampingnya.
“Kak, lihatlah aku bisa sukses.”
Ujarku penuh sesak dengan linangan air mata luka.
Allahu
Akbar, Allahu Akbar...Allahu Akbar
Adzan magrib berkumandang di surau
ini. Surau pertemuan kami dalam puluhan hari. Aku melangkahkan kaki memasuki
surau yang masih kurasakan sejuknya mengalir. Merangkai juta’an doa untuknya.
Wanita bermata teduh.
“Selamat jalan kak, semoga kau
selalu bahagia disana.” Akhirku pilu.
Peserta:
Mahasiswa/i UIN SUSKA RIAU
Persyaratan:
1. Tema:
Bebas
2. Maksimal:
6 halaman, kertas A4, Font TNR, ukuran 12, Spasi 1,5
3. Karya
belum pernah dipublikasikan
4. Melampirkan
biodata, fotocopy KTM, No hp
5. Seluruh
naskah di print, satu naskah asli, satu copy’an, dan soft file kirim ke
humas_fkii@yahoo,com
6. Karya
dimasukkan ke amplop padi lengkap dengan persyartan
7. Penyerahan
karya paling lambat 30 November 2011
8. Karya
bisa di antar ke stand Fkii dan bagi yang juara 1 bersedia membacakan cerpennya di acara puncak
Kreteria Penilaian:
1. Orisinalitas
2. Kreativitas
pengolahan ide
3. Kedalaman
pesan
4. Kaidah
penulisan dan kelengkapan naskah
Kontribusi: Gratisss…
Cp:
ema (085365100824)
LOMBA MASAK
Peserta:
utusan rohis Fakultas dan Mahasiswi UIN
SUSKA
Syarat:
1.
1 kelompok terdiri dari 3 orang
2.
Bahan utama tahu dan tambahan disediak oleh peserta
3.
Peserta bebas berkreasi dengan bahan
yang ada
4.
Seluruh peralatan disediakan oleh
peserta
5.
Waktu 90 menit
Waktu pelaksanaan:
Jum’at, 25 November Jam 08.00-Selesai
Tempat:
Di bawah pohon rindang( cadangan gedung tarbiyah)
Kontribusi:
Rp. 10.000 per kelompok
Penilaian:
1. Cita
rasa
2. Kreatifitas
3. Kekompakan
kelompok
4. Kebersihan
dan kerapiaan
5. Keindahan
yang digunakan
6. Hasil
persentasi
Yang dipresentasikan
Yang dipresentasikan
1. Cara
membuat dan bahan yang digunakan, disertai nama makanan
2. Kandungan
nilai gizi
3. Menfaat
mengkonsumi makanan tersebut
Cp:
Rika (085365830629)
LOMBA CERDAS CERMAT
Syarat dan peserta:
1. Mahasiswa/i
UIN Suska
2. Maksimal
semester 5
3. Terdiri
dari tiga orang dalam satu kelompok
4. Menggunakan
pakaian yang rapi (tidak menggunakan celana jeans bagi laki-laki dan tidak
menggunakan baju kaus bagi laki-laki maupun perempuan)
Waktu pelaksanaan:
Minggu, 27 November 2011. Di mushola tarbiyah, jika tidak memungkinkan di Dpr
(di bawah pohon rindang)
Aturan:
1. Kekompakan
(misalnya menggunakan baju seragam, tidak saling mendahului dalam menjawab)
2. Kerapian
(menggunakan pakaian yang sesuai syarat di atas)
3. Masing-masing
kreteria bernilai 50%
Cp:
Nurasiah (085365826388)
FKII AWARD 11
1.Latar belakang
Demi
memotivasi dan memberikan apresiasi kepada keder FKII asy-syams yang
berprestasi, baik akademik maupun minat
dan
bakat yang dimilikinya, maka FKII menganggap perlu acara ini dilaksanakan.
Mudah-mudahan acara ini dapat menambah
kinerja
kader FKII guna kemajuan dakwah berikutnya. Namun ini tidak dijadikan ajang
mencari dunia dan pujian belaka
melainkan
berusaha berlomba dalam kebaikan.
2.Sasaran
Seluruh
kader yang berprestasi termasuk pengurus dan BP
3.Kriteria
-
Bidang akademik
>
IPK tertinggi, kalau sama masukan semuanya sebagai kategori, kalau tidak, cukup
satu
>
tidak ada nilai C selama kuliah
Membuat
form pendataan kader perhaloqah melampirkan bukti dari isian data, Misal; KHS,
Sertifikat penghargaan
-
Bidang bakat dan minat
>
Kader yang aktif menulis, dibuktikan dengan melampirkan karya atau buku yang
sudah diterbitkan
>
kader yang punya skill Design Grafis dan terbukti bagus, dibuktikan dengan
melampirkan hasil design2 yang sudah dipublikasikan
>
Kader yang pandai berwirausaha dan rajin berinfak, kondisional
>
Kader yang Hafizh, minimal 10-30 juz, dibuktikan dengan kepercayaan umum
-
Kategori delegasi
>
kader yang didelegasikan ke luar daerah dalam rangka syiar kampus dan FKII
>
Kader yang berprestasi di tingkat nasional (semua kategori), dibuktikan dengan
surat jalan atau surat undangan dan
sertifikat penghargaan.
-
Kategori kader aktif membina
>
Binaan terbanyak, dilihat dari outputnya dengan mengkonsultasikan dengan BP
FKII dan LN. Kategori ini juga termasuk
untuk BP dan para Murabbi para umumnya
-
Kategori kader yang aktif mengisi kajian dan traning, dibuktikan dengan
seringnya dia mengisi kajian dan training berupa
plakat
dan yang lainnya yang bisa dipertanggungjawabkan.
4. Syarat-syarat
>
Minimal kader AA yang sudah terbina dengan baik atau yang sudah memiliki
pemahaman yang baik terhadap tarbiyah
>
melampirkan bukti pernyataan
>
Mendapat rekomendasi dari MR atw pementor (untuk semua kategori)
>
mengembalikan form sesuai waktu yang sudah ditetapkan
Cp:
085265569160 (Jumardi)
LOMBA
DAUR ULANG
tema:
save our earth
Persyaratan:
1. Bahan
dasar bebas
2. Bentuk
dan hasil karya bebas
3. Masing-masing
tim terdiri dari 2 – 5 orang
4. Perlengkapan
dibawa masing-masing peserta
5. Waktu
perlombaan selama 2 jam
Penilaian:
1. Manfaat
2. Fungsi
3. Nilai
estetika
4. Kekompakan
tim
Tgl
pelaksana: Sabtu, 26
November 2011
Jam
08.00-selesai
Tempat : Di bawah pohon
rindang (Dpr)
Cp: 087790274626 (Rogi), 082171760543 (siti)
FASTIFAL
NASYID
Tujuan:
Menjadikan nasyid sebagai music pilihan bagi kalangan pemuda/I muslim. So,
kalau kita buat agenda ini jadi music religi saja, tujuan itu tidak akan
tercapai, karena justru kita ikut berperan menaikkan nama-nama band yang
sebenarnya tidak asing dan salah satu tujuannya, agar nasyid kedepannya tidak
asing di kalangan muslim, remaja khususnya.
Waktu
acara: Sabtu, 26, November
jam 08.00 s/d selesai
Tempat :Ruang Teater
Faste atau Fdik
Persyaratan:
1. Tim
nasyid ikhwan yang terdiri dari min 3 orang, max 7 orang(termasuk pemain music/
perkursi)
2. Batas
usia min 16 th, max 23 th
3. Tim
nasyid belum memiliki album, baik indilebel maupun lebel
4. Mengisi
formulir dari panitia dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp.30.000
5. Membawakan
satu lagu wajib dan satu lagu pilihan
6. Lagu
yang dibawakan harus berupa nasyid dan dengan aliran bebas (acapela, minus one,
haroki, atau genre lainnya)
7. Lagu
wajib:
-Nasyid memang asyik (faith)-acapela
-Kini kau telah dewasa (Justice Voice)-acapela
-H2N (sigma-Riau)
-Kaca yang berdebu (Maidani)
-Teman sejiwa (Arif Nasheed-Riau)
8. Lagu
dan music bisa di ambil dengan panitia
Cp: 08566440634 (Razmi)
LOMBA FUTSAL
Peserta: Utusan
Rohis Fakultas
Kontribusi: Rp.
15.000 per team
Waktu acara: 27,
November 2011
Jam: 07.00-selesai
Tempat:
futsal station
Cp:
Eko















