Berbagi Dalam Kebaikan

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
Ahlan Wa Sahlan di Blog FKII

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, ...

TFT PMLDK Sumbagut

Semoga FKII Selalu Berkarya.

Memahami Sastra Islam

Buku FKII Berkarya (Saat mentari Mulai Menyinariku) buku ini berisi Kumpulan Kisah pengalaman awal tarbiyah Kader2 FKII Asy-Syams.........

Muktamar FKII Asy-Syams ke XIV

Some block quote tests: Here's a one line quote. This part isn't quoted. Here's a much longer quote: Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. In dapibus. In pretium pede. Donec molestie facilisis ante. Ut a turpis ut ipsum pellentesque tincidunt. Morbi blandit sapien in mauris. Nulla lectus lorem, varius aliquet, ...

BUKU FKII Asy-Syams

I'm just a lowly contributor. My posts must be approved by the editor.Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at ...

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 1 komentar

 












           Minggu, 23 Oktober 2011, langit Pekanbaru terlihat cerah secerah hati para pesarta training kehumasan, Komunikasi Dahsyat Dengan HipnoNLP yang ditaja oleh Humas Fkii Asy-syams. Acara ini dimulai sekitar jam 8.30, di awali dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an oleh Imam Faisa. Lantunan ayat suci tersebut tersebut menambah kesejukan Ruangan Musholla Tarbiyah yang di hadiri oleh lebih kurang 35 peserta. Acara dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan oleh Gunawan Arafatsebagai ketua umum Fkii Asy-syams.

         Beliau mengatakan sangat mendukung acara ini karena bagi seorang pendakwah, memiliki kemampuan komunikasi yang baik adalah modal yang sangat di butuhkan dan ia berharap seluruh pengurus Rohis UIN bisa mengikuti acara training ini. Tepat pukul Jam 9.00 WIB akhirnya trainer yang ditunggu-tunggu telah berdiri di depan peserta. Sang Trainer berdiri dengan senyum yang mampu membuat para peserta bisa merasakan energi persahabatan yang ingin ia salurkan. Walaupun hanya terdiri dari 35 orang peserta - 13 peserta Ikhwan dan 22 peserta Akhwat- dari berbagai utusan rohis fakultas, sang trainer Rahmat Wira, A.P -alumni Universitas Padjadjaran Bandung- mampu menghidupkan suasana dengan penuh semangat. Training di awali dengan sebuah dongengi pembuka dan membuka jendela pikiran peserta. Kemudian berlanjut dengan berbagi strategi untuk mengubah kalimat negatif menjadi positif, contohnya : “saya sudah tahu” menjadi “aha menarik juga” atau “hmm menarik juga”. Bukan hanya kata-kata, tapi Sang Trainer juga menyampaikan tentang teknik-teknik berkomunikasi dengan baik, mengenal tiga preferensi inderawi manusia yaitu visual, auditori, kinesteteik, dan juga cara-cara memahami bahasa mata seseorang. Training juga sesekali di selingi dengan games yang membuat peserta tidak merasa jenuh. Akibatnya selama mengikuti training, peserta begitu antusiasis.

          Hal tersebut terlihat dari cara peserta menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh trainer dan juga dengan berbagai pertanyaan yang di ajukan peserta kepada trainer. TESTIMONI PESERTA “Dengan adanya training ini kita bisa mengetahui cara berkomunikasi dengan baik kepada orang lain, apa yang kita sampaikan bisa di mengerti orang lain dan kita juga bisa memahami orang lain.” Ujar Nurasiah salah seorang peserta saat training berakhir. ”Saya berharap akan ada training seperti ini lagi.” Lanjutnya penuh harap.
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar










Banyak sekali alasan-alasan untuk kita menghindar dari sengketa diri dan orang lain. Bukan sekedar mengelak untuk agar tidak terkena imbas penat karena diberi amanah, tapi benar-benar membuat alasan untuk pergi menuju yang lebih mudah. Kita memang sering kali mencari yang mudah, praktis, dan enak pula.

Sementara anak-anak diri yang terpatri kecil dalam otak bawah sadar kita, meraung menumpah air mata karena lapar tak diberi makan, sesalpun kadang hanya sesaat dan tak berusaha menata kembali.

 Padahal rumah ini sudah beberapa kali diterpa badai, tembus diterpa hujan, barang-barangnya pun habis berantakan. Setiap hari kita pulang dan beristirahat di rumah ini, tidur, mandi, makan, berdiskusi, dan mengonsepi lingkungan kita. Namun sering kali setelah itu hanya serakan yang menjadi santapan mata kita. Yang mau dilakukanpun ternyata tak juga terlaksana dengan baik. maukah kita menata kembali rumah kita yang harinya kering tanpa air, keruh tak jernih, ia seolah kehilangan nyawa aslinya, hanya tinggal nyawa imitasi saja? apakah mungkin dakwah ini seperti kata Rasul "Bagaiman mungkin bangunan akan berdiri kokoh jika yang satu membangun, sedang yang lainnya meruntuhkannya?" kalau kita masih sibuk dengan kebutuhan kita saja tanpa merasa rumah ini adalah milik kita, yakinlah bahwa benar apa yang Rasul ucapkan itu sedang terjadi pada rumah kita.
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar

Seorang teman saya sempat berkomentar “apa yang buat antum punya pemikiran seperti itu?....” katanya mengomentari saya yang mengatakan bahwa sudah saatnya kita mengambil alih ranah vital ekonomi Indonesia dari tangan kapitalis. Memang saat itu, saya katakan 10 atau 20 tahun akan datang, kita sebagai pemuda muslim saat ini harus mampu mengambil alih objek vital ekonomi Indonesia seperti halnya Abdurrahman bin Auf yang berhasil mengambil alih pasar Madinah dari tangan Yahudi saat ia hijrah ke madinah. Baiklah, buah pikiran ini memang sudah ada sejak saya kelas 2 MAN Selatpanjang dimana ia sebagai kota yang sudah hampir menjadi sentral pengusaha nonmuslim sebagai pelaku utama. Saya risih, muak sekaligus sedih melihat kondisi kota kecil saya-yang saya yakin hampir semua daerah di Riau memiliki kondisi yang sama.

Dimana kita sebagai warga yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun hanya asyik menjadi penonton, bukan pemain. Bahkan, untuk lebih “keras” kita ibarat ayam yang mati dilumbung padi. Menyedihkan bukan? Memang, kita tidak bisa hanya menjadi pihak yang asyik mempersalahkan orang lain atas terpuruknya ekonomi sebagian besar masyarakat muslim. Kita perlu tanyakan mengapa kita seperti ini?, kita perlu lihat kedalam untuk koreksi diri. Mengapa kita bangga disebut sebagai Negara kaya, jika yang menikmati adalah mereka, mengapa kita bangga disebut sebagai zamrud khatulistiwa kalau zamrud itu hanya mampu jadi bahan cerita, tapi mereka yang mengelola. Mengapa kita bangga disebut sebagai negara yang menjunjung tinggi asas toleransi, jika toleran itu kita artikan dengan membiarkan orang lain menjarah rumah kita. Apa karena kita lemah atau mereka yang terlalu kuat? Apa seharusnya yang membuat kita bangga? Seperti apakah simbol kebanggaan itu?....sedikit contoh bahwa kita bangga dengan sesuatu yang bukan milik kita. Bangga disebut sebagai kota ikan, tapi kita hanya dapat amisnya saja. Pantaskah kita berbangga? Bangga disebut sebagai kota sagu, tapi sagu kita mereka yang punya, kita hanya dapat bau ampasnya saja?. Pantaskah kita berbangga? Bangga dengan julukan daerah penghasil kertas terbesar di asia tenggara, tapi kita dapat banjirnya, mereka yang curi kayu-kayu kita. Pantaskah kita berbangga? Katanya diatas minyak, dibawah minyak. Bahkan di spanduk-spanduk pemprov tidak segan-segan mencantumkan mesin pemompa minyak kita, tapi kita hanya dapat gambarnya saja. Mesinnya mereka yang punya, lebih-lebih minyaknya. Pantaskah kita berbangga?.... Saking ketergantungannya kita karena tidak mandiri secara ekonomi. Kita rela berdesak-desakan bahkan tidur seperti tumpukan manusia buangan ketika pulang liburan. Hanya karena pemilik kapal cuti 3 hari merayakan lebarannya. Kapal tidak berjalan. Dimana izzah kita, tidak malukah kita pulang kampung harus curi-curi melepaskan diri dari mahalnya ongkos pulang dengan cara menyelinap sana-sini. Ironisnya lagi, penjaga karcis adalah saudara kita juga, tapi yang mengangkang diatasnya adalah mereka. Belum sadarkah kita?.... Itulah penjelasan saya kepada teman saya tadi mengapa saya punya pemikiran seperti itu, karena bagi saya izzah kita belum tegak, kebanggaan kita belum layak, rumah kita belum tegak, dominasi mereka bikin muak. Maka sekat-sekat itu mesti kita dobrak, dan itu bisa dilakukan jika berangkat dari pemikiran yang benar dan visioner. *Penulis adalah aktivis KAMMI UIN dan Kader FKII Asy-Syams UIN SUSKA Riau
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar

Ikuti dan Meriahkan....!!! open house fkii asy-syams ke-2 dan training motivasi sukses kuliah "Change or die" Ahad, 09 oktober 11 pkl 08.00-12.00 WIB di PKM UIN. Silaturrahmi alumni rohis, tema "Merajut ukuwah di kampus islam madani" pkl 13.00-15.00 WIB. Fasilitas:Ilmu, sartifikat,gantungan kunci,pin,dll kontribusi: Rp. 10.000
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar



   oleh: Anis Mata


 Seseorang disebut pahlawan karena timbangan kebaikannya jauh mengalahkan timbangan keburukannya, karena kekuatannya mengalahkan sisi kelemahannya. Jika engkau mencoba menghitung kesalahan dan kelebihannya, niscaya engkau menemui kesalahan dan kelemahannya itu "tertelan" tertelan oleh kebaikan dan kekuatnnya. Akan tetapi, kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan rangkaian amal yang menjadi jasanya bagi kehidupan masyarakat manusia. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam ingatan kolektif masyarakat atau apa yang kita sebut sejarah. Hanya apabila kebaikan dan kekuatan menjelma jadi matahari yang menerangi kehidupan, atau purnama yang merubah malam jadi indah, atau mata air yang menghilangkan dahaga. Nilai sosial setiap kita terletak pada apa yang kita berikan kepada masyarakat, atau pada kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan performance kepribadian kita. Maka, Rasulullah saw berkata, "Sebak-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain." Demikianlah, kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada masyarakat. Maka, takdir seorang pahlawan adalah bahwa ia tidak pernah hidup dan berpikir dalam lingkup dirinya sendiri. Ia telah melampaui batas-batas kebutuhan psikologis dan biologisnya. Batas-batas kebutuhan itu bahkan telah hilang dan lebur dalam batas kebutuhan kolektif masyarakatnya dimana segenap pikiran dan jiwanya tercurahkan. Dalam makna inilah pengorbanan menemukan dirinya sebagai kata kunci kepahlawanan seseorang. Di sini ia betemu dengan pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran. Tiga hal terakhir ini adalah wadah-wadah kepribadian yang hanya akan menemukan makna dan fungsi kepahlawanannya apabila ada pengorbanan yang mengisi dan menggerakkannya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian dan kesabaran. Maka, keempat makna dan sifat ini: rasa tanggungjawab keagamaan, semangat pengorbanan, keberanian jiwa, dan kesabaran, adalah rangkaian dasar yang seluruhnya terkandung dalam ayat-ayat jihad. Dorongannya adalah tanggung jawab keagamaan (semacam semangat penyebaran dan pembelaan). Hakikat dan tabiatnya adalah pengorbanan. Perisainya keberanian jiwa. Namun, nafas panjangnya adalah kesabaran. Maka, benarlah apa yang dikatakan Sayyid Qutb, "Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar." Kaidah itu tidak saja berlaku bagi kehidupan individu, tetapi juga merupakan kaidah universal yang berlaku bagi komunitas manusia. Syaikh Arselan, pemikir Muslim asal Syiria, yang menulis buku Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Orang Barat Maju menjelaskan jawabannya dalam kalimat yang sederhana, "karena," kata Syaikh Arselan. "orang-orang barat lebih banyak berkorban daripada kaum Muslimin. Mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum Muslimin bagi agamanya". Sekarang, mengertilah kita. Dan ketika ada pertanyaan, "Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan agama ini dalam realitas kehidupan?" Maka jawabnya adalah hadirnya para pahlawan sejati yang tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain dan agamanya, serta mau mengorbankan semua yang ia miliki bagi agamanya.
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar

Ramadhon tenggelam saat syawal merekah di ufuk timur Mari sucikan jiwa, beningkan hati,Jernihkan prasangka Hingga meraih takwa dalam bingkai pribadi yang fitri Keluarga besar Fkii asy-syams mengucapkan selamat hari raya idul fitri semoga kembali kepada kesuciaan dan kemenangan Minal aidin wal faizin Mohon maaf lahir batin
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar

Begitu data/informasi sudah terkumpul, maka kamu harus segera menyusun tulisan berdasarkan bahan yang ada dan memformulasikannya menjadi sebuah proposal yang kemudian diajukan ke Masalah ini mungkin mewakili ribuan mahasiswa yang memiliki kesulitan dalam penyusunan skripsi mereka. Kesulitan yang seringkali dialami di antaranya kesulitan mencari judul untuk skripsi, kesulitan mencari literatur dan bahan bacaan, dana yang terbatas, atau takut menemui dosen pembimbing. Kesulitan-kesulitan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan stress, rendah diri, frustrasi, kehilangan motivasi, menunda penyusunan skripsi dan bahkan ada yang memutuskan untuk tidak menyelesaikan skripsinya. Kondisi ini banyak menimpa mahasiswa di semua fakultas dan jurusan, termasuk mahasiswa fakultas Psikologi. Hal ini tentu saja sangat merugikan mahasiswa yang bersangkutan mengingat bahwa skripsi merupakan tahap paling akhir dan paling menentukan dalam mencapai gelar sarjana. Selain itu usaha dan kerja keras yang telah dilakukan bertahun-tahun sebelumnya menjadi sia-sia jika mahasiswa gagal menyelesaikan skripsi. Pertanyaan kita kemudian adalah bagaimana menyiasati hal tersebut sehingga para mahasiswa ini dapat segera mulai menulis, tidak kehilangan motivasi dan segera dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. Dalam artikel ini penulis mencoba untuk mengemukakan beberapa cara untuk menangani permasalahan-permasalahan yang seringkali dialami mahasiswa seperti yang tersebut di atas. Berikut ini adalah beberapa saran yang mungkin berguna untuk diikuti jika Sobat Nida termasuk dalam kategori mahasiswa yang mengalami masalah dalam penyusunan skripsi:

Perencanaan yang Matang
Dalam melakukan setiap kegiatan biasakan untuk merancang suatu rencana secara matang. Dengan perencanaan yang matang diharapkan tujuan akan lebih mudah dicapai. Hersey dan Blanchard (1995) mengatakan perencanaan adalah penyusunan tujuan dan sasaran serta penyusunan peta kerja yang memperlihatkan cara pencapaian tujuan dan sasaran. Untuk memudahkan langkah pelaksanaan penulisan skripsi, maka mahasiswa dapat membuat suatu peta

Peta Kegiatan Penyusunan Skripsi 
Peta kegiatan yang dibuat harus dilaksanakan dengan disiplin, karena bila terlalu memberi toleransi pada diri sendiri maka semua yang ada di peta tersebut akan sia-sia. Sedangkan hal yang masih boleh ditoleransi adalah bila berhubungan dengan dosen pembimbing dan hal yang berhubungan dengan pengurusan surat-surat keterangan.

Motivasi Diri Sendiri
Mengapa motivasi penting? Untuk menjelaskannya kita dapat memakai teori dasar dari motivasi yang dikemukakan oleh Vroom (Dunnet, 1990) bahwa Prestasi (P) merupakan hasil dari Motivasi (M) dan Kemampuan/Ability (A) dengan model sebagai berikut P = M x A. Dengan model ini maka bila ada dua orang dengan kemampuan yang sama mengerjakan suatu tugas yang sama pula maka hasilnya bisa sangat berbeda. Misalkan Amir dan Budi sama-sama memiliki kemampuan 100, tetapi Amir memiliki motivasi 1 sedang budi memiliki motivasi 3 maka sesuai model diatas prestasi Amir hanya 100 sedangkan Budi 300. Terlihatlah sekarang betapa motivasi sangat berperan bagi prestasi seseorang. Untuk memotivasi diri tampaknya salah satu kalimat dalam suatu iklan produk yang berbunyi "Ayo kamu bisa", harus selalu menjadi pegangan kita. Berkatalah pada diri sendiri "Saya pasti bisa, karena saya mampu". Jangan anggap remeh kemampuan diri sendiri. Kita adalah manusia yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Waktu kita sangat banyak, gunakan dengan efektif dan efisien. Dalam 1 minggu ada 7 hari, dalam 1 hari ada 24 jam. Bila kita mengganggap waktu sempit, berarti kita telah salah! Salah besar. Waktu kita dijadwalkan dengan batas waktu yang kita tentukan sendiri, jangan sampai waktu kita "terpaksa" dibatasi oleh fakultas, karena masa studi yang sudah hampir habis. Mulai hari ini cobalah memotivasi diri sejak berada di rumah. Buatlah diri kita merasa berharga dan berbahagia. Bawalah kebahagian itu kemana kita berada, baik ke kampus, ke kantor atau ke lingkungan manapun juga. Tapi bagaimana caranya? Itukah yang kamu tanyakan! Menurut DePorter dan Hernacki (2001), sebelum melakukan hampir semua aktivitas dalam hidup kita, baik secara sadar maupun tidak, kita akan bertanya pada diri sendiri tentang "Apa manfaat ini bagiku?". Pertanyaan "apa manfaatnya bagiku" tersebut terus kita tanyakan pada diri sepanjang hari untuk memilih alternatif-alternatif aktivitas yang akan dilakukan. Untuk lebih jelas dapat coba bayangkan hal berikut ini: Setiap pagi hari biasanya kita bangun tidur kemudian sembahyang subuh kemudian tidur lagi. Tetapi seharusnya akan lebih sehat bila kita bangun pagi shalat Subuh kemudian berolahraga pagi. Nah, kita harus menimbang kedua hal tersebut dengan menanyakan "apa manfaatnya bagiku?". Bila kita pilih tidur lagi, ada kemungkinan bakalan terlambat dalam perkuliahan karena bangun kesiangan. Bila memilih berolahraga pagi, badan akan terasa segar dan sehat dan kitapun dapat berangkat ke kampus tepat waktu. Dalam banyak situasi menemukan "apa manfaatnya bagiku" sama saja dengan menciptakan minat terhadap sesuatu yang akan kita kerjakan (DePorter & Hernacki, 2001). Untuk beberapa hal mungkin mudah sekali kita tertarik dan berminat melakukannya namun ada juga hal-hal yang harus dipaksa terlebih dahulu sebelum kita tertarik untuk mengerjakannya. Namun demikian, sesulit apapun sesuatu yang harus dilakukan, kita selalu dapat menemukan sesuatu hal menarik yang dapat memberikan motivasi bagi diri sendiri. Paling penting adalah bahwa kita sudah termotivasi untuk mempelajari suatu hal/informasi baru karena beberapa alasan. Hal inilah yang dapat membantu untuk menyelesaikan penulisan skripsi. Pada saat kita sudah termotivasi maka segala sesuatu akan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Sedangkan rasa bosan dan malas dengan sendirinya akan musnah, bila kita sudah termotivasi dengan baik (istilah kerennya: motivasi menulis skripsi sudah terinternalisasi), dan kita sudah memahami apa manfaatnya menulis skripsi untuk kehidupan jangka panjang kita, maka kita akan lebih bersemangat.

Fokus pada Materi yang Disukai
Sebelum mulai menulis cobalah tanyakan pada diri sendiri: "Bidang apa dalam Psikologi (jika jurusannya Psikologi) yang sesuai dengan selera saya; Klinis, Perkembangan, Sosial, Olahraga, Pendidikan, Industri dan Organisasi atau yang lain?". Selanjutnya tentukan pilihan dan mulailah memilih topik yang sederhana dan gampang untuk mencari sumber bacaan atau informasi. Jangan menulis suatu topik yang terlalu luas, usahakan fokus pada satu permasalahan dan kita harus dapat membuat batasan secara jelas. Permasalahan yang dirumuskan haruslah logis dan terdukung oleh literatur dan bahan bacaan yang memadai. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah dikemukakan oleh Sumadi Suryabrata, Guru besar fakultas Psikologi UGM, bahwa untuk jenjang Strata 1 (S1) bentuk penulisan jangan terlalu sulit, cukup membuktikan hubungan dua variabel atau perbedaan suatu variabel. Dengan perkataan lain, janganlah mempersulit diri dengan memilih topik yang hebat-hebat atau heboh padahal tidak yakin bahwa anda menguasai materi tersebut, dan jangan terlalu idealis bila ingin menyelesaikan skripsi dengan cepat dan tepat waktu. Namun demikian tidak berarti bahwa skripsi boleh dibuat ala kadarnya. Sebagai orang berpendidikan kita juga harus sadar bawa skripsi yang dihasilkan harus memiliki nilai akademis dan manfaat bagi siapapun yang berkepentingan terhadap skripsi tersebut. Langkah awal yang terpenting untuk diingat dalam penulisan suatu penelitian ilmiah (Skripsi) adalah kemampuan untuk membuat rumusan permasalahan, tujuan penelitian dan manfaat penelitian tersebut. Semua itu harus memiliki landasan teori yang mendasar dan didukung argumen logis dari penulis. Tanpa itu mustahil dapat disetujui oleh dosen pembimbing

Tingkatkan Kemampuan Sosialisasi 
Dalam menyusun skripsi, menulis bukanlah kemampuan satu-satunya yang harus dikuasai, karena kemampuan sosialisasi memiliki porsi yang cukup vital. Rasa takut untuk menemui dosen pembimbing adalah salah satu cerminan kemampuan sosialisasi yang buruk. Rasa takut ini harus dibuang jauh-jauh dengan memulai dari diri sendiri dengan cara paling sederhana seperi menjaga penampilan fisik dan bersopan santun. Terkadang mahasiswa tidak percaya diri karena penampilan fisik yang tidak layak bagi seorang mahasiswa seperti memakai celana jeans robek, tidak memakai sepatu, rambut gondrong dan dikucir, dan hal lain yang menjadi kebiasaaan buruk dalam penampilan sehari-hari. Bagi sebagian mahasiswa mungkin tidak akan ada masalah jika berhadapan dengan mahasiswa lain atau teman-temannya, tetapi jika berhadapan langsung dengan dosen pembimbing, seringkali mereka menjadi tidak percaya diri. Nah bagi Sobat yang merasa bahwa penampilan kurang oke, cobalah segera memperbaikinya. Bila sudah dapat memperbaiki penampilan maka rasa percaya diri akan tumbuh lebih baik. Selain itu rasa takut muncul lebih besar dikarenakan cerita-cerita dari kakak-kakak senior tentang dosen pembimbing yang killer. Untuk hal ini, sebaiknya jangan sekali-kali percaya begitu saja, buktikan terlebih dahulu, karena terkadang reaksi dosen menjadi killer adalah karena sikap mahasiswa yang kurang santun dan tidak memperhatikan situasi dan kondisi. Bila perlu cobalah anda pelajari kepribadian dosen pembimbing sehingga kita tahu persis bagaimana membina hubungan yang baik demi kelancaran proses penulisan skripsi juga.

Mulai Sekarang 
"Inilah saatnya", jangan menunggu, kamu harus mulai mencari literatur sedini mungkin. Saat ini juga baca sebanyak mungkin literatur yang kamu suka, kemudian rumuskan menjadi variabel yang siap dituliskan di skripsi. Datangi seluruh perpustakaan yang ada, toko buku dan pedagang buku bekas untuk mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Jelajahi juga website-website yang menyediakan informasi yang kamu butuhkan. Baca juga ensiklopedia elektronik seperti Encarta, Grolier, Britanica atau yang lainnya. Segeralah lengkapi diri dengan buku penuntun penulisan skripsi yang biasanya diterbitkan oleh fakultas, atau bagi mahasiswa fakultas Psikologi, anda dapat membaca dan mengikuti ketentuan penulisan karya ilmiah dari APA (American Psychologist Association). Langkah --> yang perlu dilakukan adalah mencatat dengan lengkap nama pengarang, tahun terbit, judul buku, penerbit serta halaman dari kutipan yang dibaca. Mengingat bahwa hal-hal tersebut sangat vital, usahakan dapat memperoleh copy dari tulisan yang anda kutip. fakultas. Jangan pernah menunda untuk menyusun proposal skripsi, sebab sekali tertunda maka akan membutuhkan waktu yang lama bagi anda untuk mulai mengerjakannya kembali. Oleh karena itu, MULAILAH SEKARANG JUGA! Selamat mencoba, semoga sukses. (Hary) Sumber www.e-psikologi.com
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar












Judul Buku : La Tahzan for Students
Penulis : Lisman Suryanegara, Rose FN, khoirul Anwar, dkk Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Tebal : 252 halaman

 “Hidup memang harus penuh dengan perjuangan, saya akan terus kuliah sampai tidak ada lagi sekolah yang lebih tinggi. Tekadku untuk terus sekolah tidak pernah surut.” Saya ingin sekolah keluar negeri, tetapi apakah saya bisa? Bagaimana saya dapat mewujudkannya? Apakah impian ini bisa menjadi kenyataan? Deretan panjang pertanyaan seperti ini mungkin kerap kali menghantui anda bukan? Ingin kuliah keluar negeri, sementara uang tidak ada, semangat terkadang berkobar-kobar. Namun surut seketika jika membayangkan dan memikirkan darimana memperoleh biaya, apakah uang bisa turun begitu saja dari langit? Ditambah kemampuan bahasa inggris atau bahasa asing yang masih belepotan, merasa kerdil karena lulusan sekolah yang kurang berkualitas di kancah nasional dan bla,bla,bla...masih banyak lagi alasan lainnya. Wah, tampaknya anda kudu baca buku yang satu ini nih, “La Tahzan for students” sebagai suplemen motivasi dan menghibur hati yang sedih. Pokoknya di jamin akan membuat anda semangat meraih impian, khususnya bagi anda yang berminat meraih beasiswa study ke negeri matahari alias Jepang. Bagi anda pecinta buku La Tahzan, buku “La Tahzan for Students” ini juga bisa memberikan energi dan inspirasi baru. Jadi sangat disayangkan jika anda melewatkan buku yang satu ini sebagai santapan. Dengan hanya merogoh koncet sebesar tiga puluh sembilan ribu rupiah saja, anda tidak bakalan kecewa seumur hidup. Bukan hal yang mudah memang meraih beasiswa atau kesempatan belajar ke Jepang, meski juga bukan hal yang teramat sulit.. karena sebagaimana kita ketahui, Jepang adalah salah satu negeri dengan pendidikan terbaik di dunia. Kemajuan teknologinya tak perlu diragukan, kulturnya mendukung siapapun untuk menjadi sosok yang kompetitif. jadi, siapa sih yang tidak ingin kuliah ke negeri ini? Bagi anda yang memiliki azam melanjutkan sekolah ke Jepang, tekad dan kerja keras memang menjadi dua hal penting untuk mewujudkannya. Selama kita berupaya sungguh-sungguh, insyaAllah tidak akan sia-sia. Saigo no saigo made gambarimasu, berjuanglah sampai titik darah penghabisan! Buku yang ditulis oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena ( FLP) Jepang ini berawal dari kegundahan seorang pelajar di Jepang bernama Lisman Suryanegara. Dia sering menghadapi rintangan selama kuliahnya. Dengan maksud berbagi semangat dalam belajar, dia mengajak beberapa pelajar dan mantan pelajar di jepang untuk bergabung menuliskan kisah perjuangan mereka. “Ganbareba dekiru!” Merupakan motto dalam penulisan buku ini yang berarti “Jika berjuang, pasti berhasil.” Buku ini sungguh sangat menginspirasi! Kisah heroik para pelajar Indonesia di Jepang yang memaparkan suka-duka dan perjuangan hidup dalam menuntut ilmu serta berbagai fenomena yang menyangkut perbedaan budaya, agama dan kultur dipaparkan secara lugas dengan bahasa yang mudah dicerna. Setiap kalimat yang tertuang dalam buku ini benar-benar merefleksi perjuangan terjal para pelajar untuk menuntaskan mimpinya di negeri sakura. Sebuah perpaduan antara idealisme dan mimpi. Buku ini sangat perlu dibaca oleh anda yang mempunyai mimpi besar, bercita-cita maju dan ingin menuntut ilmu untuk mengubah masa depan kearah yang lebih baik. Baik juga dimanfaatkan untuk mengetahui informasi-informasi tentang cara meraih beasiswa ke jepang. Harga buku juga tidak terlalu mahal, jadi para mahasiswa masih bisa menjangkaunya. Tetapi sepertinya kualitas kertas cover dan isi yang digunakan masih kurang berkualitas. Jadi harus ekstra hati-hati merawat buku yang satu ini. Selanjutnya saya tidak akan panjang lebar memaparkan tentang isi buku tersebut. Bagi anda yang ingin segera mewujudkan mimpi-mimpi anda, segera milikilah buku ini. Disamping kisah-kisah inspiratif yang menyentuh dan memotivasi, beragam tips dan trik belajar, bekerja, mensiasati hidup dari beasiswa, hingga jalan-jalan murah di jepang dapat anda dapatkan dari buku ini. Nah, tunggu apalagi, hai ganbarimashou…! Mari sama-sama berjuang! Annisa_Adzkia Penulis adalah alumnus UIN SUSKA yang bercita-cita meraih beasiswa ke jepang.
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar










OLEH: MUHAMMAD ERY ZULFIAN

Tugas kuliah kalian masih numpuk? Mana besok ada ujian lagi terus ada pretest buat praktikum, mana hafalan slide sejibun. Baru slide pertama saja sudah bosan, mau membaca tapi mata mengantuk akhirnya nggak jadi deh, semuanya pada dicuekin. Kok jadi malas ya? Nah, yang menjadi pertanyaan bagaimana cara mengusir rasa malas dalam belajar? Di bawah ini ada beberapa tips yang insya Allah bisa membantu, semoga bermanfaat: Pertama, berwudhulah, karena dengan berwudhu secara langsung kamu juga akan membasuh wajah dan menyegarkan kembali aura wajahmu yang tadinya ngantuk, kalau bisa mandi sekalian terus wudhu. Kedua, menghirup udara pelan-pelan melalui hidung kemudian menghembuskannya lewat mulut dengan cara berdiri untuk menambah kesegaran dan ketenangan. Ketiga, memulai dengan membaca Ta’awudz dan Basmallah, semoga pekerjaan kita baik membaca atau menyelesaikan tugas tidak diganggu oleh syeitan dan akan diberkahi oleh Allah. Hal ini supaya aktivitas bernilai ibadah. Keempat, ada saatnya untuk mengubah posisi, misalkan posisi duduk ketika membaca. Ataupun bisa jadi dari posisi duduk berubah menjadi berdiri, namun jangan sampai dari duduk terus berbaring, kemungkinan besar bisa ketiduran. Kelima, berpindah dari ruang satu ke ruang lainnya. Bisa saja disiasati seperti berpindah dari kamar ke beranda ruang tamu atau bahkan ke dapur dan ke luar rumah untuk sesekali memandang alam. Keenam, membuat sesuatu yang menyegarkan, contohnya saja seperti membuat minuman teh, kopi atau jus bahkan kue-kue kecil untuk menghilangkan rasa bosan dan menjernihkan pikiran. Ketujuh, ketika sudah selesai, ucapkanlah Hamdallah dan berdoa kepada Allah semoga apa yang baru saja dikerjakan tadi bermanfaat untuk hari esok dan hari yang akan datang. Itu beberapa tips agar kita terjauh dari sifat malas. Oo iya, jangan lupa juga kita harus berdoa meminta kepada Allah agar senantiasa diberikan semangat dan keistiqomahan dalam beribadah. Aamiin. Belajar yuuk!
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar











          Oleh:Taka tanika

          Kawan, ini lah kisah pertama aku mengenal tarbiyah. Dari SD aku sudah dititipkan kedua orangtua di sekolah islam yang bernama Muhammadiyah. semua orang tahu bahwa Muhammadiyah adalah sekolah swasta berbasis islam. Berlanjut ke SMP, aku masuk SMP swasta yang juga berbasis islam. SMA pun begitu. Di SMP dan SMA aku menuntut ilmu di yayasan yang sama. Yayasan itu bernama YPIT Mutiara Duri-Riau. Kalau dikaji dari biaya operasional, sekolah ini sekolah yang mahal dan hanya bisa dijangkau oleh kalangan atas. Maklum saja sekolah swasta. Kalau Masalah kualitas tidak diragukan lagi. Setiap hari masuk pukul 07.15 pulang pukul 15.30 usai shalat ashar. Begitu setiap hari. Sehingga kekhawatiran orang tua terhadap aktifitas anaknya dapat terminimalisir karna lebih banyak menghabiskan hari di sekolah.

         Tapi satu hal yang harus dirimu tahu kawan. Aku bukan lah anak orang kaya yang sanggup membayar biaya operasional setiap bulannya. Berbekal beasiswa dari yayasan aku mendapat fasilitas dan tempaan yang setara dengan teman-teman yang lain. Kawan, pada umumnya guruku adalah orang-orang yang tertarbiyah. Di dalam kelas, mereka tidak hanya memahamkan tentang matematika, bahasa Indonesia, bahasa inggris dan mata pelajaran lainnya. Mereka mengajarkan nilai kebaikan dan bertutur benar kepada orangtua. Bersikap jujur dan mengajarkan kejujuran. Mereka sering mengangkat kisah hidupnya untuk meyakinkan kami. Mereka cerdas, jujur, berwibawa dan sabar. Aku takjub pada kepintaran mereka dalam memahamkan kami terhadap pelajaran. Aku kagum pada wibawa mereka yang tidak dibuat-buat. Dan aku salut pada kesabaran mereka dalam menghadapi beragam tingkah laku kami. Cerita seorang guru yang sampai hari ini masih kental dalam ingatanku. Beliau wali kelasku ketika SMP kelas satu. Selain cantik, dia adlah sosok yang mementingkan penampilan. Banyak nilai plus untuknya di mataku. Aku senang mendengar petuah dan motivasi darinya. Ketika itu dia bercerita tentang perjuangannya mengenakkan jilbab yang berawal ketika SMA. Beberapa kali jilbabnya dilepas secara paksa. Tapi beliau tidak menyerah. Bahkan mengulanginya setiap saat. Buraian airmata tentu mengokohkannya. Kontra dari pihak keluarga tidak menyurutkannya untuk istiqomah. Sulit dipercaya pada akhirnya, keluarga yang menentangnya pun mengikuti langkahnya mengenakkan jilbab. Aku tersenyum sendiri mengingat cerita tersebut. Aku juga ingin mengenakkan jilbab tiap kali berpergian atau bahkan ketika duduk-duduk diteras rumah. Ketika itu aku malu mengenakkan baju yang pas di badan. Aku merasa tidak nyaman karna payudaraku sudah mulai tumbuh. Sering ku tarik baju disekitar dada agar tidak membentuk payudara. Walhasil bajuku menjadi jelek. Ada keinginan dalam hati ku untuk mengenakkan jilbab agar aku senantiasa leluasa tanpa harus menarik baju. Tapi keluargaku bukanlah keluarga yang paham tentang aurat. Pemahaman agama kami sebatas rukun islam. Syahadat, shalat, puasa, dan zakat. Kalau haji, entah kapan kami bisa naik haji. siapa tahu kisahku akan sama seperti wali kelasku. Berujungn manis. Sampai kelas tiga SMP aku belum bisa mengenakkan jilbab kemanapun aku mau. Aku baru bisa mengenakkannya ketika ke sekolah dan ke pasar. Keterbatasan baju yang aku punya juga menjadi penghalang bagiku untuk memenuhi keinginan tersebut. Saat itu aku berfikir untuk menjadi orang kaya. Aku harus kaya. Selama ini baju yang aku pakai lebih banyak dari pemberian sanak dan keluarga apakku. Lengan pendek dan merisaukan. Syukurnya aku selalu mengenakkan celana panjang di luar dan di dalam rumah. Aku tahu. Jacket. Yeah, aku butuh jacket agar gampang dipakai dan dilepas. Ku buat janji dengan diriku “ kita nanti aku sudah punya jacket, aku tak lagi telanjang kepala duduk-duduk di teras rumah bahkan di dalam rumah”. Aku ingin memelihara auratku. 

      Mulai hari itu aku menabung untuk membeli jacket. Interval Di penghujung kelas tiga SMP, aku berhasil membeli jacket dengan uang ku sendiri. Sebagaimana janji ku. Aku akan menjaga auratku dari yang bukan muhrim. Hari pertama aku mengenakkan jilbab di rumah. Semua orang bertanya “ hendak kemana?” “ tidak kemana-mana” “rapi sekali” “  ” kubalas dengan senyuman. Mental ku belum total. Aku butuh 20% lagi untuk meyakinkanku. Bila tiba-tiba ada yang mengejek dan mencemooh aku belum siap. Apalagi apakku. Raja cemooh. Maklum saja, kami orang minang yang cemoohan dan sindirannya sudah dikenal. Oh, tidak. Kekhawatiranku kini terjadi. Apak menentangku habis-habisan. Beliau mengatakan aku aliran sesat, cepatlah taubat sebelum sesat lebih jauh katanya. Beliau sering marah ketika aku terlambat datang memenuhi panggilannya yang sedang duduk-duduk di teras. Dua detik saja menunggu, beliau marah. Padahal aku sedang menyorong jilbab dan memasang jacket. Beliau juga bilang aku tambah budeg alias tuli semenjak menggantungkan sehelai jilbab di kepalaku. Aku sedih, bahkan ingin menangis. Aku tak sanggup membantah kedua orangtuaku. Bagaimanapun aku akan tetap menjadi anak baik untuk mereka. Aku selalu mendo’akan mereka dalam shalatku. Kuadukan pada Allah keinginanku untuk menuju kekaffahan. Aku pun meminta pendapat dengan guru-guruku. Kuamalkan solusi yang mereka sarankan. Man jadda wa jada. There is a will there is a way. Memasuki usia SMA, kontra dengan apakku belum berujung. Kucari jalan keluar. Dengan keyakinan yang sempurna kuminta pada Allah agar mengikat erat hatiku dengan mereka. Aku semakin santun. Turut ku bantu mereka dalam membina adik-adikku. Aku ingin amak dan apakku merasa beruntung memiliki anak sepertiku. Dengan seperti ini, aku mendapat simpati. Lambat laun lampu hijau menyala untukku. Aku bisa memakai jilbab kemanapun aku suka. Bahkan aku mendapat kepercayaan untuk membina adik-adikku dalam urusan agama. Aku semakin gencar dengan misi ku. Sampai hari ini, tekadku belum pudar. Aku akan menjadi murabbi bagi adik-adikku.
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar











      Oleh:Cahyadi Takariawan

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, paham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Paham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, paham akan konsekuensi setiap tahapan, paham akan logika tantangan yang menyertai setiap tahapan, paham bahwa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat resiko yang berlainan. Kepahaman kader dakwah terus berkembang. Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas artinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah. Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, bukan jenis amal sporadis, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban. Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan membersamai dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah. Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktivitas dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda, itulah ciri kader dakwah yang setia. Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada pondasi manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, karena perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tantangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang tahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan. Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula. Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta. Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tantangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya. 
 Jadi, benarkah kita kader dakwah ?
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar

“Sebelum kiamat datang, apa yang sekarang di lakukan oleh malaikat Isrofil?” Jawabnya, “Sedang membersihkan terompetnya.” Mungkin yang ada di benak kita malaikat Isrofil itu seperti sesosok seniman yang asyik mengelap terompet kecilnya sebelum tampil di atas panggung. Sebenarnya seperti apa sih terompetnya atau yang biasa juga dikenal dengan sangkakala malaikat Isrofil itu? Sekitar enam tahun silam sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Prof. Frank Steiner dari Universitas Ulm, Jerman melakukan observasi terhadap alam semesta untuk menemukan bentuk sebenarnya dari alam semesta raya ini sebab prediksi yang umum selama ini mengatakan bahwa alam semesta berbentuk bulat bundar atau prediksi lain menyebutkan bentuknya datar saja. Menggunakan sebuah peralatan canggih milik NASA yang bernama “Wilkinson Microwave Anisotropy Prob” (WMAP), mereka mendapatkan sebuah kesimpulan yang sangat mencengangkan karena menurut hasil penelitian tersebut alam semesta ini ternyata berbentuk seperti terompet. Di mana pada bagian ujung belakang terompet (baca alam semesta) merupakan alam semesta yang tidak bisa diamati (unobservable), sedang bagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem tata surya berada merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable) (lihat gambar bentuk alam semesta di bawah). Bentuk Alam Semesta Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid 1 hal. 60 ada sebuah hadits panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati. Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda : “Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Isrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah. Saya bertanya : “Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?” Jawab Rasulullah : “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya tanya : “Bagaimana besarnya?” Jawab Rasulullah : “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali. Pertama : Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan). Kedua : Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan). Ketiga: Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).” Dalam hadits di atas disebutkan bahwa sangkakala atau terompet malaikat Isrofil itu bentuknya seperti tanduk dan terbuat dari cahaya. Ukuran bulatannya seluas langit dan bumi. Bentuk laksana tanduk mengingatkan kita pada terompet orang–orang jaman dahulu yang terbuat dari tanduk. Kalimat seluas langit dan bumi dapat dipahami sebagai ukuran yang meliputi/mencakup seluruh wilayah langit (sebagai lambang alam tak nyata/ghoib) dan bumi (sebagai lambang alam nyata/syahadah). Atau dengan kata lain, bulatan terompet malaikat Isrofil itu melingkar membentang dari alam nyata hingga alam ghoib. Jika keshohihan hadits di atas bisa dibuktikan dan data yang diperoleh lewat WMAP akurat dan bisa dipertanggungjawabkan maka bisa dipastikan bahwa kita ini bak rama – rama yang hidup di tengah–tengah kaldera gunung berapi paling aktif yang siap meletus kapan saja. Dan Allah telah mengabarkan kedahsyatan terompet malaikat Isrofil itu dalam surah An Naml ayat 87 : “Dan pada hari ketika terompet ditiup, maka terkejutlah semua yang di langit dan semua yang di bumi kecuali mereka yang di kehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadapNya dengan merendahkan diri.” Makhluk langit saja bisa terkejut apalagi makhluk bumi yang notabene jauh lebih lemah dan lebih kecil. Pada sambungan hadits di atas ada sedikit preview tentang seperti apa keterkejutan dan ketakutan makhluk bumi kelak. “Pada saat tergoncangnya bumi, manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya, yang menyusui lupa pada bayinya, anak–anak jadi beruban dan setan–setan berlarian.” Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik, jika terompetnya saja sebesar itu, bagaimana dengan si peniupnya dan apalagi sang penciptanya? Allahu Akbar! 

 (Sumber: http://www.beritaunik.net/misteri-dunia/penjelasan-bentuk-semesta-seperti-terompet-sebagai-sangkakala-saat-kiamat.html)
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar















 oleh Sujiratul Aulia dan Amy Herda

 Jika memang engkau Ikhwan sejati Jangan pernah engkau tebarkan pesonamu hanya untuk mencuri hati, Jangan engkau berkata-kata mulia jika hanya untuk menarik simpati, Jangan curahkan rasa dan cintamu kepada orang yang belum tentu akan engkau nikahi, Karena sungguh semua itu akan menyakiti, Yang ada hanya harapan yang tak akan berujung arti, Jika Memang Engkau Ikhwan Sejati Jangan berikan harapan kepada orang yang belum tentu engkau nikahi. Tahukan engkau apa Yang mereka rasakan, penyesalan yang amat sangat, atas sebuah hijab yang tersingkap...Ketika lelaki yang tak halal baginya, bergelayut dalam alam fikirannya, yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar akan cinta yang tak suci lagi... Jika Memang Engkau Ikhwan Sejati Tak akan mau membuat kekhawatiran yang amat sangat kepada Akhwat yang engkau cintai, yang resah akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak akan pernah halal baginya… Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah, kegelisahan di hatinya yang tak mampu lagi memberikan ketenangan di wajahnya yang dulu teduh… Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu bagaimanapun caranya…Bahkan kendati dia harus menghilang, maka itu pun akan mereka lakukan.. Alangka kasihannya jika engaku berhasil mencuri hati…Karena yang ada adalahpenderitaan… Jika Memang Engkau Ikhwan Sejati Jadilah Pahlawan bagi mereka agar mampu menjaga Cinta Suci Illahi dengan menyandang status Suami.. Datangi mereka dengan cinta dan ikatan nan suci.. Atau engkau harus selalu menjaga hati tak akan mengucapkan kata cinta atau pun tebar pesona.. Jangan bilang cinta kalo kita masih setengah hati mencintai. Jangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jika Memang Engkau Ikhwan Sejati Janganlah menyakiti Janganlah menanam harapan-harapan yg tak berujung arti Jangan engkau mengaku cinta sebelum menyelami,,,,,
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar











 Oleh: Abdul Muhadi BS

 “Tarbiyah bukanlah segalanya, tapi segala sesuatu berawal dari tarbiyah.” Aku setuju dengan istilah ini, sangat setuju. Karena tarbiyahlah aku bisa meraih jejak-jejakku yang membanggakan, alhamdulillah. Berikut ini aku hikayatkan jejak tarbiyahku di negeri junjungan ini. Di kotaku bersepeda memang dianggap sesuatu yang asing. Maklumlah kota yang masih mengedepankan segala sesuatu harus model dan modern. Apalagi saat bersepeda sambil memakai pakaian muslim berbajukan koko dan kopiah, maka dipastikan mata-mata aneh akan melirik asing. Tapi jangan khawatir sepedaku ini akan terus melaju melesat cepat di antara gedung-gedung tinggi menelusuri jalan berlobang sana-sini dengan semangat yang tinggi. Walaupun badai menghadang, hujan menghujam, angin malam mengibas, lelah menderu tubuh, aku tak peduli tetap akan menghadiri majlis ilmu alias halaqoh malam ini sebagai pengecas bateraiku yang sudah lowbat, dan yakin setelah itu badanku akan terisi semangat seperti semangatnya para mujahid mujahidah di Palestina. Makanya kalau ketemu dengan kawan karibku aku selalu bilang, “Hari ini nggak halaqoh, nggak keren…!” Usai solat isya rutinitas ini menjadi penyeimbang hari-hariku dalam satu pekan. Sudah pastinya aku ingin menjadi pendakwah yang tangguh jadi harus sabar ketika motor-motor keren berkelebat melaju sampingku, mobil-mobil indah pun dengan ornament klasiknya selalu membuka kaca mobilnya melirikku aneh namun aku tetap mengayuh sepeda di tengah kota metropolitan ini menuju tempat halaqoh. Aku tak pedulikan mereka yang penting halaqoh-ku malam ini harus full motivasi. Kalau dipikir-pikir jalan kaki ke majlis ilmu ini akan menghabiskan banyak waktu jadi mendingan naik sepeda hemat waktu. Waktu itu bagaikan emas, dapat sudah emasnya. Materi yang pernah diberikan murabbi-ku (guru) di majlis ilmu ini memang luar biasa mulai dari tafsir al-Qur’an, hadits-hadits yang tiada duanya kemudian materi 20 Ushul Hasan Al Banna sang revolusioner dakwah Islam itu juga banyak materi lain yang sudah memenuhi agenda harianku, harap bisa diterapkan dalam aktifitasku sehari-hari. Yang asyiknya lagi bisa curhat dengan murabbi bisa seputar masalah kuliah, sosial atau hal persahabatan, bahkan masalah pernikahan juga boleh. Dan akan diberikan solusi serta obat mujarab gratis dari beliau, hidupku jadi tenang bersama tarbiyah. Hawa malam itu kian mencengkam tubuhku ditambah lagi banyaknya aktifitas di kampus. Selain menjadi mahasiswa ilmu bahasa aku juga aktif di berbagai organisasi kampus. Pernah aku bilang sama kawan-kawan halaqoh-ku, “Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Kalau ada 3K+OK+H (Kampus, Kantin, Kost, Organisasi Kampus dan Halaqoh) kenapa harus cari yang lain.” Azam. Nama halaqoh-ku yang diambil dari tekad yang kuat dan kreatifitas kawan-kawan untuk berbuat kebaikan, majlis ini rutin membuat jejak buletin bulanan yang rubriknya diambil dari penjelasan dan untaian kata murabbi juga ditambah pernak-pernik kata hikmah satu menit kami ucapkan sebelum dimulainya halaqoh. Buletinnya kami sebarkan ke kalangan siswa dan mahasiswa setempat, juga menebarkan kasih sayang sesama muslim dengan infak tiap bulan untuk membayarkan SPP sekolah bagi anak-anak yatim. Yang luar biasanya lagi saat ini halaqoh Azam kami sudah mempunyai yayasan yang dikelola secara syariah. Mulai dari bimbingan belajar Islam terpadu, toko buku islami, juga tak kalahnya ada pelatihan tahfidz dan tahsin qur’an, nasyid dan seni kaligrafi. Visi majlis ini ingin menyebarkan syumuliyyatul Islam (Islam agama universal) agar nuansa keislaman itu menyebar di kota berlimpah nikmat minyak ini. Malam itu aku lihat kawan-kawan se-halaqoh sudah pada berkumpul di tempat biasa kami bertemu. Sambil menunggu murabbi dan cipika-cipiki sana sini kami berbagi hikmah satu sama lainnya, ada juga yang sempat ganti-gantian pijit. Tidak beberapa menit kemudian bunyi motor khas murabbi kami terdengar dari depan rumah, kami pun siap-siap menyimak materi karena murabbi bawa oleh-oleh ilmu hari ini. *** Sepulang halaqoh tigerku (sebutan nama sepedaku) meluncur kembali di jalan raya tengah malam itu tapi dalam hati telah berkobar bendera-bendera semangat baru sebagai mujahid muda. Aku terjebak banjir sejengkal mengguyuri jalan raya tetap kuputar lebih kuat sepedaku. Kalaupun ada razia di jalan raya nanti tigerku tak akan ditahan pak polisi karena bebas razia, bebas bensin, bebas helm, bebas SIM dan STNK. “Terima kasih ya Allah yang telah memberikan azam dalam diriku hingga bisa halaqoh malam ini. Semoga juga kawanku yang lainnya bisa juga merasakan tarbiyah dan hadir dalam jalan dakwah ini. Amiiin..,” aku lafazkan doa saat tiba di kamarku. Selain itu ada hikayat menarik juga yang kutulis dalam catatan harian yang berjudul, “Pak Polisi Juga Manusia, Punya Rasa Punya Hati.” Peristiwa ini terjadi saat kami akan halaqoh di salah satu rumah kawan se-halaqoh. Tempatnya agak jauh kalau ditempuh dengan opelet sekitar 45 menit dari rumahku, jadi aku lebih pilih nebeng dengan kawanku yang ada motor, karena takut telat jadi aku tak sempat mencari helm. Dalam perjalanan kami tak terbesit sedikit pun akan ada razia polisi karena biasanya di kotaku malam-malam jarang ada razia. Tapi tanpa kusadari malam itu aku dan kawanku terkejut dengan polisi yang memakai jaket orange sudah berdiri samping jalan raya yang agak gelap itu. Trik pak polisi dalam razia memang keren, semua lampu jalan raya dimatikan sehingga membuat jarak pandang kami buram. Kami jadi salah satu mangsa malam itu dan pak polisi yang berkumis tebal menyuruh kami menepi. Kawan-kawan halaqoh yang lain sudah pada lewat selamat dari razia karena lengkap cuma kami berdua yang tertahan. “Maaf, malam pak!” “Wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh!” Kami jawab sapa pak polisi, mungkin karena grogi ketemu dengan polisi jadi jawab sapanya tak nyambung tapi mantap juga untuk syiar Islam. “Maaf, apa kesalahan bapak?” “Kami tak pakai helm pak,” cengar-cengir kawanku menjawab. “Begini pak kami tadi buru-buru karena malam ini harus ikut majlis taklim, jadi tak sempat cari helmnya,” aku beralasan. Melihat tampang kami saat itu pakai baju koko dan peci juga bawa al-Qur’an pak polisi langsung percaya, ia langsung melapor ke komandannya yang duduk samping jalan. Semoga kami dibebaskan dari razia, dan yang paling penting niat baik tak akan luntur dengan ujian kecil seperti ini. “Besok jangan diulangi lagi ya!” ucap pak polisi mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah kami selamat, mungkin pak polisi kasihan dengan kami atau malah sebaliknya takut dengan kami yang berpakaian ala muslim semuanya, tapi kami bukan teroris. *** Dalam tarbiyah aku merasakan keseimbangan ruhiyyah (keimanan) dengan baca al-qur’an dan al-ma’tsurat, fikriyyah (pemikiran) dengan materi tarbiyah, dan jasadiyyah (fisik) dengan mukhayyam (perkemahan) atau rihlah (traveling) ataupun riyadhoh (olahraga). Gara-gara tiga keseimbangan inilah aku menjadi mahasiswa peraih jejak IPK tertinggi di fakultas, menghasilkan lima buah buku dalam kurun 10 bulan, bisa juga melanjutkan kuliah S2 di negeri Malaysia, tamasya budaya ke negeri Melaka, dan tak kalahnya lagi bisa meraih tiga perempat dari 100 jejak-jejak hidup yang kutulis dalam dua lembar kertas dalam kurun waktu tujuh bulan. Luar biasa bukan doa dan tarbiyah? Makanya tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak halaqoh walaupun harus bersepeda atau malah jalan kaki. Karena aku ingin seperti liriknya nasyid Izzatul Islam.. Ribu langkah kau tapaki Pelosok negeri kau sambangi Tanpa kenal lelah jemu Sampaikan firman Tuhanmu Terik matahari tak surutkan langkahmu Deru hujan badai tak lunturkan azammu Raga kan terluka tak jerihkan nyalimu Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu Semua makhluk bertasbih Panjatkan ampun bagimu Semua makhluk berdoa Limpahkan rahmat atasmu Maka aku tak akan ragu hidup bersama tarbiyah yang menjadikan pribadiku tangguh dan seimbang dunia serta akhirat. Dengan senyum aku lafazkan, “Selamat meraih jejak-jejak dari tarbiyah.”*** Rumah Enrakolis, April 2011
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar










oleh:Annida Online

Sob, tahu buku tertua di dunia? Terbuat dari emas 24 karat looh! Subhanallah... Pada tahun 1943, di wilayah barat daya Bulgaria, para pekerja menggali sebuah kanal dan menemukan sebuah pusara purbakala dengan lukisan-lukisan di dindingnya. Di dalamnya juga ditemukan apa yang mungkin disebut buku berhalaman banyak tertua yang pernah ditemukan. Buku itu memiliki enam halaman dan semuanya terbuat dari emas murni. Buku tersebut ditulis dalam bahasa Etruscan. Etruscan adalah orang-orang purbakala yang bediam di Italia lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Halaman-halaman buku yang disebut-sebut tertua ini dibendel di satu sisi, persis buku-buku modern. Di dalamnya berisi gambar seorang penunggang kuda, puteri duyung, dan beberapa kstaria. Buku tersebut didonasikan pada Bulgarias National Museum of History oleh seorang pria yang tidak ingin identitasnya dipublikasikan. Buku kecil yang berumur lebih dari 2500 tahun ditemukan secara tak sengaja 60 tahun yang lalu di sebuah makam tua dengan lukisan dinding. Makam itu ditemukan di Lembah Sungai Struma Bulgaria selama pekerjaan konstruksi jalan. Seorang Bulgaria yang tinggal di Macedonia mempersembahkan artefak tersebut pada museum dalam kondisi anonim. Pria yang (saat itu) berusia 87 tahun ini menemukan buku itu sendiri. Keaslian buku itu telah dikonfirmasi oleh dua ahli independen di Sofia dan London, Direktur Museum Bozhidar Dimitrov. (Sumber: http://namakugusti.wordpress.com/2011/01/21/buku-tertua-di-dunia/ dan tambahan dari http://www.antique-antiques.com/old-books-worlds-oldest-book.shtml)
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar







oleh:Internal Humas Fkii

Ketika kehidupan memberimu seribu alasan untuk menangis Tunjukkan bahwa kita juga punya sejuta alasan untuk tersenyum Nikmati setiap detik waktu yang berjalan dan akhiri kelelahan hari ini dengan keikhlasan Dan sabar Indahnya hidup bukan karena seberapa banyak orang yang mengenal kita, namun Seberapa banyak orang yang ahagia kerana mengenal kita (0813655……)

Kita, ikhwah kita, masing-masing punya ukurannya sendiri Sikap kita adalah memberikan ukuran yang PAS untuk saudara kita dan kita sendiri Sepatu yang besar selamanya akan longgar pada kaki yang kecil atau sebaliknya Kaki yang besar selamanya tak kan sesuai untuk sepatu yang keci Masing-masing punya ukurannya sendiri Maka berikanlah yang PAS untuk saudara kita, juga diri kita (0852655….)
Jika kau merasa bahwa segala yang ada di sekitarmu gelap dan pekat Tidakkah dirimu curiga, bahwa kaulah yang di kirim Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu! Sebab sinarmu yang mereka nantikan maka, berkilaulah(085365…..)

Jika esok napas ini terhenti, mungkin sujud hari ini begitu berarti. Jika menangis diujung adalah penyesalan, mungkin air mata hari ini adalah lentera harapan. Karena kita hanya singgah sebentar disini karena apabila waktu terlewat, tak sedikitpun ia kembali. Apabila perbutan telah terlaku, tak sebesar zarrahpun luput dari pantaunNya, jadi marilah kita bersama perbaiki segala sesuatu selagi kita miliki. Menghiasinya dengan amal, agar setiap detik kehidupan kita dihitung sebagai kebaikan (0813782…..)

Tidak ada nikmat kebaikan yang Allah berikan setelah islam,selain saudara yang soleh/ah. Maka jika kamu merasakan kecintaan dari saudaramu, peganglah kuat-kuat persaudaraan dengannya.Umar bin Khatab(087868….)
Dari lubuk hati terdalam kulantunkan doa kepada yang maha Rahim, agar ia berkenan menambahkan kesejukan di hatimu, kedamaian dalam hidupmu. Keluasan ilmumu, kecukupan dan keberkahan rezkimu,keelokan pribadimu,ketajaman akal dan firasatmu,keistiqomahan dalam dakwahmu, keindahan syukur dan shobarmu(081365…)

Jika dakwah ibarat pohon, ada saja daun-daun yang berjatuhan
Tapi pohon dakwah itu tidak pernah kehabisan cara untuk menumbuhkan tunas-tunas barunya
Sementara daun-daun yang berguguran tak lebih akan menjadi sampah dalam sejarah
Jangan pernah menyalahkan jalan ini
Jangan menyerah karena lelah atau lemah
Biarlah lemah mengejarmu sampai lelah
Tetap istiqomah
Semoga beratnya amanah menjadi satu titian menuju Syurga Allah
(085299295.....)

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi
Semangat juang yang tak pernah pudar
Ajaran yanmg mereka bawa bertahan melebihi usia mereka
Boleh jadi usia mujahid yang membawa misi dakwah tersebut tidak panjang
Tetapi cita-cita, semangat, dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka
(Ust. Rahmat Abdullah)
(085255830.....)
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 1 komentar


Oleh: Rudi Rendra
Hem banyak hal menarik yang saya alami semasa menjalani aktifitas di wajihah dakwah yang tumbuh di lingkungan kampus. Dari interaksi dengan berbagai jenis manusia, saya berharap saya terjaga dari lupa kalau kita adalah kader dakwah, boleh berinteraksi tapi jangan terkontaminasi, oke . Saya akan ceritakan beberapa kejadian yang unik, semoga bisa kita ambil ibrohnya. Selamat membaca. Dan silahkan tertawa.
Pertama kali saya ikut kegiatan dakwah kampus, pertama yang saya lihat adalah cara berpakaian kakak senior, serba Eiger, sendal eiger yang kayak pendekar wiro sableng, trus tas ransel, dan tentunya jaket aktivis, hem saya Tersepona(red: terpesona), dan tentunya meniru, dalam proses peniruan ini tidak ada maslah yang begitu berarti, dalam sekejap saya sudah disulap jadi aktivis, tapi baru bajunya saja.
Dan ada lagi nih hal yang lucu tentang, penyebutan kata yag sering diucapkan kader, “ Antum” hehe maklum ketika baru masuk sempet keseleo, nyebutin kata “ Antum”, contohnya: mas antum! Mau kemana. Ikut dong! Sebelum tau kesumbangan itu, rasanya gak ada yang aneh, tapi setelah, saya mulai paham dikit tentang bahasa arab, saya malah dibuat tertawa sendiri, seharusnya kata-kata yang benar adalah sebagai berikut;
“ Akhi, antum mau kemana?!”
“ Mas,(koma) antum mau kemana?”
Secara kaidah, boleh dong sedikit kita kaji, kata antum itu diucapkan sebagai kata sapa, yang artinya, kamu (seorang/ mufrod yang gunanya untuk takzim, atau menghormati) dan antum juga dapat kita artikan, kamu semua laki-laki. Untuk lebih jelasnya belajar deh bahasa arab yang baik dan benar. Karena banyak loh keutamaannya, !
Terus, setelah saya tahu sedikit tentang bahasa arab, maka saya sedikit tergelitik untuk mengangkat masalah ini!, pengucapan takbiruu...! (ayo bertakbir) sungguh gak jelas, kalau mau di tasyrifkan, pengucapan kata perintah (amer) maka pengucapan yang benar adalah, kabbiruu!!! Ayo bertakbir! Allahu akbar, sudah ya jagan kita ulangi lagi, saya gelisah aja, tapi memangsih kesalahan yang tidak fatal, namun jika diteruskan maka seperti saya anak PBA (Pendidikan Bahasa Arab) akan mengerutkan dahi, menahan rasa yang aneh, yaitu isin(red :malu. Bahasa jawa).
Oke, untuk selanjutnya saya ingin bercerita tentang berbagai jenis sms yang pernah masuk, mulai dari sms lebai versi kader, sms –godaan, teror, de el el cek it out!
Hem... memasuki semseter ke -2, kegitan mulai padat, akitvitas pribadi seperti tidur siang dan berleha-leha sukar ditemui lagi, maka disaat itu jugalah berdampak pada aspek kehidupan saya yang lain, yaitu masalah istijabah tiap kali amanah dan sms memenuhi inbox. Sebuah kejadian, ketika itu saya mendapat amanah disebuah kepanitiaan, dan kebetulan ketika itu saya, icak-icaknya lagi sedih-lah, berulang kali dan bertubi-tubi sms demi sms memborbardir masuk inbox BBku, dikarenakan lagi diterpa masalah kulaih IPK yang menurun dan mata kuliah yang berat so, saya jadi gak respon dengan sms-sms itu, begitulah kalau seorang ikhwan sedang sedih, lesu, menyendiri, menghindar dari hiruk-pikuk aktivitas Dakwah, akan dalam memasuki dunianya, tak hendak diganggu sedikitpun. Hem saya sadari ini gak sehat, jelas menghambat dakwah, saya sempat menyesal dengan perbuatan ini, ternyata, sms-sms itu adalah taklimat, untuk syuro yang mesti segera dipenuhi. rekan-rekan ikhwan dan akhwat, protes keras. Yang intinya saya mengabaikan panggilan jihad. dari kejadian ini saya berkesimpulan tentang psikologi akhwat kader dakwah, ternyata akhwat atau perempuan itu,
*suka ketidakpastian yang berlarut, butuh ketegasan sikap. Saya sarankan kepada para pria untuk sesegera mungkin membalas sms akhwat dengan baik untuk menghindari konflik seperti diatas.
Disisi lain, ternyata ikwan kayak saya ini, seperti penjelasan berikut,
*pria yang sedang dilanda masalah tidak ingin diganggu, bahkan ketika kadar masalahnya cukup tinggi, ia tidak ingin diganggu oleh amanah dakwah, ia lebih memilih sendiri dan tidak bertemu dengan orang orang untuk sementara waktu
Harapannya, dengan memahami karakter masing-masing ini, semoga kita dapat saling melengkapi dan tafahhum. Trus kita juga mampu menjaga akhlak dalam berinteraksi dengan lawan jenis.
Masih tentang sms. ternyata Membahas masalah sms juga gak ada habis-habisnya, sekarang sms ini sedikit berbau VMJ, (Virus Merah Jambu) hem, ini adalah salah satu diantara masalahnya, seharusnya lebih ketat menjaga hijab dan akhlak hubungan antara ikhwan dan akhwat. Coba deh perhatikan,
“ Assalamualaikum, ukhti kayfa khaluki? Gimana katanya sakit, udah mendingan?” (ehem)
“ Alhamdulillah udah baikan, udah bisa kok, diajak syuro lagi, syukron atas doanya”
“ Waah kalau gitu, kapan kita bisa syuro lagi”
“ Hem, kapan yach, kalau besok sore aja gimana? Di komsat, “
“ Siiip! Oke deal! Besok bada asar di Komsat ya, infokan ke akhwat yang lain,”
“ Laksanaken bosz...!, semga Allah kuatkan kita di jalan ini”
“ Ya, makasih ukh, maan najah, wassalam”
“Walaikumslm wr wb”
Ups! Gak sempat disensor, tapi semoga rekan kader dakwah & pembaca yang budiman, paham sehingga sensor itu selalu ada di hati selalu merasa diawasi oleh Allah, sekarang saya udah paham. Saya bertekad untuk siap memperkuat basis kesolehan pribadi, menuju kesolehan ummat. Amin.
Trus ada lagi kejadian, masih seputar sms. Setelah saya mengikrarkan sumpah setia atau komitmen untuk soleh wa yuslieh (baik dan memperbaiki), ternyata Allah ingin menguji sekuatmana keimanan dan komitmen saya untuk selalu dalam batasan syari, menghindari berbagai godaan yang datang, ehem salah satu godaan itu datang dari masa silam, masa dimana celana saya masih berwarna abu-abu, dan baju putih tutwurihandayani, sms dari sidia menyapa menghembuskan wewangian syurga yang haram untuk dihirup sekarang, jika dihirup tentu di syurga kelak saya takkan dapatkan huurun aen, bidadari syurga. Namun sempat juga saya terbawa arus, astagfirullahhal adzim!!! Hazihi musykilah kabiiroh!
Bagaimana kisah selanjutnya?
Nah ini dia, saya tersadar telah jauh dari akhlak seorang pemuda muslim ideal, ketika mengikuti acara mabit di DJ (Darul Jannah), yaitu best cam-nya kader KAMMI, karena UIN SUSKA sendiri belum selesai membangun masjid. Ketika itu yang mengisi taujihnya diisi oleh ustadz Yunus L.C, wah luar bisa, beliau berkata bahwa “ penghambat dakwah itu adalah orang yang, tidak komitmen dengan batasan syari” lalu saya bertafakur, merenungi diri yang ternyata telah tergolong dalam golongan penghambat dakwah. Penyesalan terbit, sms-sms “sampah” dan nomor HP perempuan yang tak jelas yang saya nilai berpotensi mengajak kejalan kiri, saya delete .... “jangan ganggu saya lagi.!” Saya berazam dalam hati.
Akhirnya, sms-sms yang bernada melangkolis romantis najis, berubah jadi sms-sms haroki yang berinterval tinggi, tuk tegakkan takbir di jiwa dan raga, supaya terbangun sensitifitas terhadap kebaikan. Semoga kita termasuk pada golongan ‘’ulul albaab” yang berfikir, dan mampu mengambil ibroh disetiap pengalaman. Wallahu a’lam.
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar


Oleh: Jasmawati
Ayu menatap mentari yang mulai menyembunyikan wajah bulatnya di antara awan-awan jingga yang berserakan di kaki langit. Dari kedua bola matanya terpancar cahaya rindu yang kian menyala.
“Mak, ayah bile balek?” Tanyanya.
“Suatu hari nanti ayah pasti balek.” Jawab wanita paroh baya itu.
“Suatu hari tu bile mak?” Tanyanya lagi sambil menoleh ke arah emak.
“Kita tunggu saja mungkin bulan depan ayah dah balek.”
Ayu hanya bisa diam mendengarkan jawaban dari emak,walaupun hatinya berontak karena hanya jawaban itu yang selalu keluar dari bibir emak setiap kali ia menanyakan tentang ayahnya. Dilihatnya emak sedang memasukkan telor kedalam adonan. Tubuh emak yang semakin hari semakin kurus karena harus berjualan kue di sekolah untuk biaya sekolahnya.
Ayu kembali menatap awan-awan jingga yang mulai menjelma menjadi pekat. “ Andai saja Ayah ada pasti mak tak payah-payah berkerja sekeras ini.” Ucapnya lirih. Selembar cerita silam seolah tergambar kembali di ingatannya. Sosok ayah yang pernah menemaninya mengisi hari kian menari-nari di pelupuk matanya. Hampir enam tahun sudah ayahnya pergi, ketika itu ia masih berusia enam tahun. Kata emak ayah pergi merantau ke Malaysia untuk mencari duit yang banyak dan pasti akan pulang, tapi sampai hari ini entah berapa kali senja ia berdiri di bibir jendela rumah panggung yang hampir roboh itu untuk menanti kepulangan sang ayah, namun sosok ayah tidak pernah muncul.
***
Ayu berjalan gontai menuju sudut sekolah tempat biasa emak berjualan kue. Di lihatnya emak sedang sibuk menghitung-hitung kue jualan yang masih terlihat banyak.
“Dah pulang yu?” Tanya emak.
“ Ya.” jawab Ayu singkat.
“Mak, tadi pak Ihsan dah minta duit ujian akhir sekolah.”Ucapnya berat.
Mak hanya diam tidak tau mau memberikan jawaban apa karena sampai saat ini uang untuk ujian akhir sekolah Ayu belum juga terkumpul.
“Coba ayah ada, pasti Ayu dah bayar uang sekolah.”kata Ayu yang tau kalau uang emak tidak cukup untuk membayar uang ujian akhir sekolahnya.
“Iya nak, bentar lagi ayah pasti balek bawa duit yang banyak.”
“Mak yakin ayah akan balek?”
Emak mengaguk walaupun ia sendiri tidak tau entah kapan suaminya itu akan pulang.
***
Satu bulan kemudian
Emak melangkah menghampiri Ayu yang duduk di teras rumah. Ditatapnya wajah Ayu yang sendu.
“Ayu kenapa?” Tanya emak duduk di sebelah Ayu.
“Tadi di sekolah kata pak Ihsan kalau akhir bulan ini belum bayar uang sekolah Ayu tak boleh ikut ujian.”
“Iya nanti kalau ayah dah balek pasti di bayar.”
“Dah satu bulan,tapi ayah tak juga balek-balek, mungkin ayah dah lupa sama kita mak.” Tiba-tiba perkataan itu terlontar dari bibir Ayu.
“Ayu!!!!” Mak tersentak mendengarkan perkataan Ayu.
“Ayu tak boleh cakap macam tu, ayah dah janji sama mak akan balek, mungkin esok atau lusa Ayah akan balek.”Ucap emak wajahnya terlihat mendung
“Maafkan Ayu mak.” Ucap Ayu dengan mata berkaca-kaca.
***
Tok-tok-tok
“Assalamualaikum….”
“Waalaikumsalam.” Mak bangkit membuka pintu dalam benaknya siapakah yang datang senja-senja begini. Mungkinkah suaminya yang pulang. Namun saat ia membuka pintu yang di dapatinya bukanlah sosok suaminya melainkan seorang lelaki jangkung berkulit hitam. Emak mengernyitkan dahinya mencoba mengingat-ingat lelaki yang berdiri di hadapannya.
“Apa kabar Ros? “Aku Irul temannya Agus, masih ingat tak?” Tanya lelaki itu.
“Ooo..kabar baik” Jawab emak.
“Aku kesini Cuma nak cakap, kau tak payah lagi tunggu laki kau balek.”
“Kenapa?” Tanya emak dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“laki kau dah mati. Dua bulan yang lalu kami dah mau balek ke kampung, tapi dalam perjalanan kapal kami dihantam badai semuanya tenggelam di selat Malaka dan hanya aku yang selamat.”
Seperti ada beribu-ribu duri menusuk hati emak saat mendengarkan berita kalau suaminya telah meninggal. Air matanya tumpah tak terbendung lagi.
“Mak tadi Ayu liat ada yang datang, siapa mak?” Tanya Ayu yang baru pulang dari mengambil air di sumur belakang rumahnya.
“Apa orang tu bawa kabar tentang ayah? bile ayah balek katanya mak?”
Seketika tangis emak pecah bibirnya kelu, perlahan diraihnya Ayu kedalam pelukannya.
“Ayah Ayu tak kan pernah balek lagi baik bulan depan,besok, ataupun lusa.”Ucap emak pilu.
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar

oleh:Ema
Ya Rabb Izinkan Aku MencintaiMu
Izinkan aku mencintaiMu walaupun cinta ku ini tak kan sesempurna cinta para nabiMu, cinta para sufiMu, dan cinta para kekasihMu
Izinkan aku mencintaiMu, lewat sholat yang kudirikan kadang dengan pikiran melayang ke berbagai himpitan dunia
Izinkan aku mencintaiMu, lewat sujud panjang dalam tahajud yang tak sanggup kupenuhi setiap malamnya
Izinkan aku mencintaiMu di setiap lantunan ayat-ayat cintaMu yang masih terbata-bata kulafazkan
Izinkan aku mencintaiMu lewat sepotong hati yang masih sering kunodai dan ingin kubasuh dengan cahaya keimanan kepadaMu
Izinkan aku mencintaiMu lewat ayunan pena yang ingin kutinggalkan jejak-jejak cahayaMu
Izinkan aku mencintaiMu, mengumpulkan serpihan rindu meski harus merangkak dan tertatih
Inilah aku yang ingin mencintaiMu wahai Rabb
Sebisaku, semampuku, dengan segala kelemahanku
[ Read More ]

Posted by HUMAS FKII ASY-SYAMS - - 0 komentar


Oleh:Pipit Senja
Obituari: Ustazah Yoyoh Yusroh Mujahidah Masa Kini
Suatu siang, April 2008
Bermula dari pesan singkat Ustazah Yoyoh Yusroh, mengundangku untuk jumpa di kantornya, gedung DPR, Nusantara Bhakti 2. Kupikir, Mbak Yayu, istri Presiden PKS (ketika itu) Tifatul Sembiring yang telah menyampaikan pesanku kepada beliau.
Beberapa bulan sebelumnya, Ustazah Yoyoh Yusroh telah mengamanahi kami (Anneke Puteri, aku dan kawan-kawan) wakaf sebidang tanah di Depok Timur untuk gedung Taman Baca. Proposalnya siang itu kuserahkan kepada sosok itu, seorang muslimah yang telah lama kukenal kisah perjuangannya dari teman-teman liqo. Namun, baru beberapa kali saja bertemu muka secara langsung, dan bisa berbincang akrab.
“Boleh saya curhatan, Umi,” ujarku usai urusan proposal.
Kusadari bahwa ini spekulasian, selain hanya terkait urusan pribadi, bisa jadi sebagai sikap lancang terhadap seorang anggota MPR/DPR RI. Duh, maafkan daku, Umi cinta!
“Oh, boleh… Ada yang bisa saya bantu, Teteh?”
Aku merasai benar aura keramahan, kebersahajaan dan ketulusan memancar dari sosok yang telah banyak menjadi panutan kaumku perempuan. Dalam sekejap aku merasa dapat mempercayai sosok ini, maka kutitipkan sebagian beban nestapaku. Bahwa ada masalah besar, kemelut dalam rumah tangga, sehingga aku dan anak-anak harus memutuskan untuk hijrah dari rumah yang selama ini kami tempati.
Beberapa detik berlalu, aku menanti dalam debar harap, dan membuang jauh-jauh gengsi, segala tetek bengeknya itu. Ternyata sosok keibuan ini telah menghadiahiku satu hal. Bahwa aku dan anak boleh menempati rumahnya yang kosong. Saat itu juga Ustazah Yoyoh langsung menelepon Mbak May, orang yang selama ini diamanahi memegang kunci rumahnya.
“Silakan, Teh.. kapan pun Teteh siap, boleh menempati rumahnya,” katanya dalam nada yang ikhlas dan serius. “Rumah itu memang sudah lama kosong.”
“Duh… Umi… bagaimana saya mengucapkan terima kasih,” tergagap-gagap mulutku bahna haru.
Umi Umar, demikian sebutannya di kalangan liqo kami, seketika menggenggam kedua tanganku, mengalirkan semangat dan kekuatan melalui jari-jemarinya yang hangat dan lembut.
“Kita ini bersaudara, Teteh… saya paham masalah Teteh. Banyak sekali ibu-ibu, istri yang mengalami hal seperti ini.”
Siang itu betapa banyak pelajaran berharga yang bisa kupetik. Pertemuan dengan seorang ibu yang memiliki karier luar biasa, sebuah keluarga sakinah, ibu dari 13 anak yang penuh welas asih, duhai!
Beberapa jenak kami masih berbincang tentang berbagai hal, karya, dakwah dan cintanya terhadap anak-anak dhuafa. Kemudian aku diajaknya melihat-lihat ruangan di sebelah menyebelah.
“Ini dia ruang sidang komisi delapan,” ujarnya ketika kami berdua memasuki sebuah ruangan luas.
“Pernah saya menulis lakon anggota dewan. Setingnya, yah, syukurlah tidak jauh-jauh amat. Jadi merasa tenang, tidak ngapusi pembaca,” kataku sambil menahan tawa, betapa diriku sebagai penulis suka mengembangkan imaji liarku ke mana suka.
“Teruslah menulis, Teteh,” kembali kurasai genggaman hangatnya di telapak tanganku.
“Boleh minta endorse nanti untuk buku yang sedang Teteh sunting, ya, Umi?” pintaku serius.
“Insya Allah dengan senang hati, Teteh.”
Maka, aku telah menerima janjinya tersebut untuk buku memoarku; Dalam Semesta Cinta. Endorsenya kupajang di kover depan sbb: “Membaca buku ini membangkitkan semangat kami untuk banyak merenung dan mencatat detail nikmat-Mu yang kadang alpa dari ingatan kami. Terus berkarya ya Teteh, alirkan cintamu kepada kami melalui penamu yang tajam.” (Ustazah Yoyoh Yusroh)
Tak berapa lama kemudian, Ustazah Yoyoh menawariku makan bersama. Karena makanannya telah tersedia, meskipun sungkan, akhirnya kuterima ajakannya. Maka, kami berdua makan siang di ruang kerjanya. Beberapa rekannya sesama anggota Dewan atau mungkin stafnya, melintas, saling menyapa. Mungkin mereka heran juga;” Siapa itu yang numpang makan dengan Bu Yoyoh?”
“Baiklah, sekarang Teteh pamitan, ya Umi.”
“Oh, jangan pulang sendirian. Kita sama-sama pulangnya kan searah ke Depok. Sebentar, ya, Teteh,” ujarnya sambil menghubungi seseorang yang ternyata adalah suaminya, Pak Budi Darmawan.
Saat itu sedang ada demo di pintu gerbang gedung MPR/DPR RI. Jadi, mobilnya diarahkan dari bagian belakang. Rasanya bak mimpi saja. Berjalan bersama sosok yang sering disebut-sebut dan dibanggakan oleh Helvy Tiana Rosa. Ya, dia dengan tulus masih meluangkan waktu, bersama Pak Budi, mengantarku sampai kawasan Kalibata.
“Maafkan, ya Teteh, tidak bisa mengantar sampai Depok. Kami langsung ditunggu acara pengajian di rumah.”
“Duh, tidak apa-apa, ini sudah sangat merepotkan, terima kasih, ya Umi, sampai jumpa…” ujarku lirih sebelum kami berpisah, sementara mataku terus-menerus membasah.
“Ya, sampai jumpa. Istiqomah selalu, ya Teh, assalamualaikum…”
Tidak hanya itu, Pak Budi meluangkan waktunya untuk turun dan mencegatkan sebuah taksi, bahkan memberikan ongkosnya pula kepada sopir taksi hingga ke Depok.
Subhanallah, pasangan suami-istri yang sungguh luar biasa dalam urusan keikhlasan berbagi.
Sebuah beban telah terangkat dari bahu-bahuku, segera kukabari hal ini kepada anak-anak. Petang itu pun kami langsung boyongan ke rumah besar, bersebelahan dengan sebuah mesjid. Inilah kawasan Yayasan Ibu Harapan.
Sejak saat itu hingga empat bulan kemudian, aku dan dua anak serta seorang menantu yang sedang hamil, menempati rumah milik Ustazah Yoyoh Yusroh. Begitu banyak nikmat dan hikmahnya selama menempati rumah idaman, demikian Butet menyebutnya. Sebuah rumah megah bercat putih-krem, tiga lantai dan perabotan yang lengkap.
Tiap hari Minggu, setelah sholat subuh berjamaah, aku bisa mengikuti kuliah subuh yang dipimpin langsung oleh Ustazah Yoyoh Yusroh. Ketika itulah taklimnya kedatangan seorang tamu istimewa dari Arab Saudi, yakni; Yusuf Qardhawi.
Gemetar rasanya bisa melihat dan berbincang sekilas dengan penulis besar itu. Meskipun komunikasi dijembatani oleh Ustazah Yoyoh Yusroh yang fasih bercakap bahasa Arab. Ya, berkat kedekatan dengan Umi Umar yang selalu murah senyum ini, semuanya itu bisa terjadi.
Suatu hari, seorang asistennya menyampaikan titipan dari Ustazah Yoyoh. Sebuah amplop tebal, begitu kubuka ternyata berisi sejumlah uang. Aduh, betapa malu diri rasanya hatiku. Sudah ditampung di rumahnya, bukannya bayar uang sewanya, malah menambah beban saja.
Awalnya, kukira hanya akan sekali itu saja, karena kebetulan aku harus ditransfusi. Namun, ternyata pada bulan berikutnya pun ada titipan serupa melalui asistennya.
“Umi, mohon tidak memberi sumbangan terus, buat Teteh. Bukankah Umi juga sedang mencari dana untuk anak-anak dhuafa,” kataku via SMS.
“Insya Allah rezeki-Nya akan mengucur deras untuk anak-anak, Teteh. Terimalah, itu kan rezeki Teteh juga untuk beli obat,” balasnya.
Subhanallah, alhamdulilah. Dan memang rezeki terus mengalir, selama tinggal di rumah idaman itulah; aku digratiskan pergi Umroh oleh Travel Cordova, Haekal yang baru lulus mendapatkan pekerjaan tetap, Butet mendapat beasiswa dan pertukaran pelajar ke Banjarmasin, Seli dinyatakan positif hamil anak pertamanya.
Sungguh, betapa indah simpul persaudaraan yang diulurkan oleh Ustazah Yoyoh Yusroh kepadaku dan anak-mantu. Kutahu, kepada jamaah taklimnya di pelosok Tanah Air pun dia melakukan banyak kebaikan, kemuliaan yang agung dan tanpa pamrih. Bahkan ketika sedang mengandung tua pun masih jua menempuh perjalanan jauh, demi menyampaikan sumbangan untuk korban gempa dan tsunami.
Sosok muslimah yang satu ini, memang bukan sekadar seorang ibu dari 13 anaknya yang semuanya hafidz Al Quran, seorang istri shalehah yang kerap menawarkan suami tercinta untuk beristri lagi.
Tidak hanya itu, muslimah perkasa yang selalu berpenampilan bersahaja inipun adalah; sosok mujahiddah luar biasa untuk masanya. Ketangguhannya, keimanannya, dan keistiqomahannya melebihi para pahlawan perempuan yang pernah lahir dalam sejarah Indonesia.
Kini, engkau telah pergi untuk selamanya, 21 Mei 2011, Mujahiddah.
Namun, kami senantiasa mengenang segala ketulusan dan keikhlasanmu dalam berbagi ilmu, rezeki dan waktu, masa-masa emasmu yang seharusnya untuk keluarga.
Engkau tidak pernah mementingkan diri sendiri, melainkan jamaah, ummat yang diutamakan.
Selamat jalan, Muhajiddah kami tercinta, duhai…
Hanya jannah-Nya jualah yang pantas untuk tempatmu.
Semoga kita masih dapat jumpa, Saudariku cinta, Ustazah Yoyoh Yusroh. (Pipiet Senja)
[ Read More ]